Friday, 18 October 2024

,

Plastik dan tanggung jawab intelektual ilmuwan

Kemajuan, konon selalu dilekatkan pada peran para ilmuwan. Hal ini akan lebih jelas jika dilihat titik-titik waktu yang dijadikan ciri perkembangan jaman, yang kemudian disebut berbagai tingkatan revolusi industri. 

Paijo: Atau, jangan-jangan bangunan konsep revolusi industri itu adalah projek ilmuwan/insinyur untuk mendakwa bahwa mereka penting? 
Karyo: Bisa jadi, Jo.

sumber: ini

Lihat gambar di atas, penciri revolusi industri 1  sampai 4, terkait dengan teknologi. Mulai dari mesin uap, listrik dan produksi massal, IT dan saat ini cyber.

Karya para insinyur memang mengubah. Namun, ada yang terlewat. Mereka melupakan dampak yang akan terlihat setelah terakumulasi sekian tahun.

Misalnya pada karya berbentuk plastik kresek atau semacamnya.

Plastik, pada saat awalnya muncul dan ditemukan teknologi penciptaannya, pasti dianggap sebagai capaian gemilang. Keberhasilannya dirayakan dengan suka cita. Setelah ditemukan, melalui bentuk plastik pada umumnya, manusia dapat memiliki bungkus yang sangat elastis, dapat dipakai untuk membawa apapun, dalam bentuk dan ukuran yang beragam, dan tentu saja murah. Mereka pun bergembira.

Saking murahnya, plastik selalu disediakan oleh para pedagang sebagai bentuk peningkatan kualitas layanan. Pembeli otomatis akan dapat plastik saat membeli barang. 

Namun siapa sangka, sekian puluh tahun kemudian plastik menjadi masalah.

Plastik yang awalnya jadi capaian gemilang, kini menjadi musuh dan dimusuhi. Bahkan, orang yang berhasil menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan plastik, dianggap berprestasi dan berkontribusi pada keberlanjutan bumi. Ironis.

Pendek kata, di balik capaian gemilang para ilmuwan yang berhasil menciptakan plastik, ada keterlambatan kesadaran akan dampaknya. 

Sebenarnya bukan hanya plastik. Namun juga mobil, motor, pemanfaatan batu bara, dan lainnya lupa. Dampak buruknya dirasakan sekian puluh tahun kemudian. Kesadaran yang terlambat ini, kemudian memunculkan konsep perlambatan entropi, untuk mengurangi beban lingkungan.

Begitulah ilmuwan, mereka juga manusia biasa.
Kadang saya berfikir, kerusakan lingkungan merupakah anak haram dari perselingkuhan antara ilmuwan dan para pemilik modal.
Itu!

Atau, sebenarnya ketika kita pakai plastik.....
.......kita sedang memberi penghargaan, apresiasi para insinyur penemunya. 

Itu (lagi)! 

*** 

Lalu apa tanggung jawab intelektual ilmuwan pada plastik?

Kalau mereka bisa membuat, mereka harusnya juga bisa mengolah kembali apa yang dia buat. Melakukan rekayasa terbalik. Itu tanggung jawab intelektualnya. Ironi jika mereka justru menghindari yang dulu diciptakannya.

Masalah plastik seharusnya tidak selalu diarahkan pada para konsumen plastik. Tariklah ke hulunya! Produsennya! Dan juga ilmuwan yang menciptakannya. Pada mereka melekat tanggung jawab tentang permasalahan plastik. Bahkan tanggung jawabnya lebih besar dari konsumen yang menggunakannya.

Itu!

Tuesday, 8 October 2024

Roti Sisir di kampus kita

Entah berdasar sisi sebelah mana roti ini disebut roti sisir. Saya cari gigi sisirnya? ndak ada. Ompong? Mungkin. Tapi anehnya ya tetap saya beli juga. Meskipun saya ndak punya rambut yang cukup untuk disisir.

Saya kenal roti ini saat harganya kisaran 200-250 rupiah per bungkus. Sebelum krisis moneter tahun 98, yang kemudian gonjang-ganjingnya membuat Pak Wo harus pergi ke Yordan. Saat itu, kebetulan ibu saya buka warung kelontong. Jadi saya tahu harganya. 

Membeli dan makan roti sisir, bagi saya semacam membangkitkan memori masa lalu. Kenangan yang sangat sentimentil, dan begitu menyentuh perasaan. Roti ini merupakan roti yang harganya paling terjangkau dibanding roti sejenis lainnya. Jadi primadona. Saat makan, suasana yang tercipta mirip makan roti seperti di iklan tipi-tipi. Apalagi itu, ada menteganya. Wis lah. Ini roti sangat ramah dengan kantong warga saat itu.

Saya tak perlu ceritakan ditailnya. Rekan-rekan yang seusia dengan saya, kemungkinan besar pernah merasakannya.

****

Agaknya roti ini cocok jika dimakan sambil ngopi. Bisa bikin sendiri, atau beli di lantai 4 SGLC. Itu lho, yang kata /rif tinggal tunjuk sana dan tunjuk sini bagai seorang raja. Lalu dibikinkan. Satu menit setelahnya langsung jadi. Layanannya benar-benar prima, lebih prima dari Prima. Tapi ya tetap harus bayar. Ndak gratis.

Lebih masuk lagi jika dimakan bareng-bareng, setelah olah raga misalnya, di Jumat pagi. Sambil ngobrol ngalor ngidul, fufu fafa fifi fefe dan fofo. Mengobrolkan apapun. Tentang negara, tentang UKT, tentang macetnya jalanan kota, angsuran, pekerjaan, pilkada, harga-harga, dan semacamnya. 

Atau tentang strategi-strategi menyelamatkan masa depan bumi dan lingkungan, yang kabarnya diambang bahaya. Apapun, lah. Bebas.

**

Kini, meski beda merk, roti sisir harganya Rp4000 per bungkus. Sekitar 16x lipat atau 1600% naiknya, dalam 26 tahun. Tentu saja, ada banyak pertimbangan hingga si produsen memasang harga segitu. Mungkin mahal, tapi untuk sebuah nostalgia rasa dan suasana, bisa jadi tidak mahal. 

Namun demikian, semoga UU Cipta Kerja bisa berdampak pada penuruhan harganya. Atau mungkin distribusinya perlu pakai mobil Esemka, biar harganya dapat ditekan dan lebih terjangkau, khususnya bagi mahasiswa.

Oia, roti sisir ini saya beli di Teknik Mart. Lokasinya di dalam kampus. Dekat dan tentu saja bersahabat. 

Yang ingin membangkitkan memori masa lalu yang sentimentil, bisa meluncur ke sana. Bisa bayar dengan cara apapun, uang pas, uang receh, atau uang tak kasat mata. 

Salam plastik. Eh, Roti Sisir

Sunday, 6 October 2024

,

Meletakkan jargon "It’s just one straw, said 8 billion people" secara adil

"It’s just one straw, said 8 billion people", kalimat sakti yang digunakan untuk meyakinkan bahwa meskipun cuma 1 plastik itu tetap berbahaya, karena yang mengatakan ada 8 miliar manusia. Artinya ada 8 miliar plastik yang berpotensi sampah.

Oke!

Setelah mendapat kata-kata di atas, konsumen plastik berfikir, "Benar juga, ya. Satu plastik saja dari saya, kalau semua pada kondisi yang sama, maka akan ada 8 miliar plastik". 

Uakeh tenan.

Lalu, muncullah perasaan bersalah, berdosa, wajah memelas dan melankolis menunjukkan kesedihan. 

Padahal, dia pakai plastik ya karena memang plastik telah ada. Dia tidak membuat plastik. Dia konsumen, dia pengguna produk dari perusahaan yang tidak dilarang negara.

***

Kalimat "It’s just one straw, said 8 billion people" menjadi kalimat yang selama ini dipakai untuk konsumen plastik. Bagi saya, penggunaan kalimat ini untuk konsumen, merupakan bentuk ketidakadilan.

"Wanine gur karo konsumen. Kalau berani, ngomonglah ke produsennya!"

Konsumen itu memanfaatkan apa yang dijual. Penggunaan plastik tidak dilarang oleh negara. Bukan barang haram. Pabrik plastik juga ada, tidak dilarang oleh negara. 

Lalu, bagaimana logikanya, kok konsumen pengguna plastik malah ditekan dengan kalimat "It’s just one straw, said 8 billion people".

Tidak ada ketentuan hukum yang dilanggar oleh para pengguna plastik? Kalau ada, coba sebutkan!

Kalau memang plastik itu bagian dari sampah, maka seharusnya fokus ke pengelolaannya. 

***

Dilarang atau tidak dilarang, kalau mengacu ke 8 miliar di atas; plastik tetaplah plastik. Ketika ada 8 miliar orang tidak menggunakan plastik-pun, ya tetap akan ada 8 juta plastik yang mengonggok meski tidak dipakai. Plastik tetaplah plastik.

Sebagian besar manusia sepakat, bahwa plastik berpotensi menjadi sampah yang berbahaya bagi lingkungan dan masa depan alam. Tapi, ayolah kita berusaha adil. Jangan tekan terus para konsumen. Tekan juga kebijakan pemerintah dan juga produsen plastiknya.

Itu!

Sambisari
6 Oktober 2024
9.14 pagi

Saturday, 5 October 2024

Sampah Plastik dan Ujian Kemanusiaan Kita

Plastik (jenis tertentu) yang tak terpakai, menjadi momok menakutkan. Hantu yang selalu membayangi masa depan bumi dan lingkungan. Dia diklaim mampu bertahan ratusan tahun, tidak musnah. Tentu, hal ini menjadi ancaman bagi lingkungan.

Jika ditelisik sekian tahun lalu, plastik merupakan capaian gemilang dari teknologi. Mengutip Wikipedia, pada cantuman berjudul plastik, sejarah plastik dimulai pada 1862. Waktu berlalu, riset berkembang. Hingga pada 1974 perusahaan banyak yang menggunakan plastik untuk kebutuhannya. 

***

Namun siapa menduga, puluhan tahun kemudian (sejak 1974), plastik menjadi masalah besar. Utamanya jika dikaitkan dengan lingkungan, pencemaran, sampah, perubahan iklim, dan semacamnya.

Sama seperti sepeda motor, bensin, atau batu bara, yang pada awalnya juga merupakan temuan gemilang. Namun sekian dekade kemudian, menjadi masalah besar. Sepeda motor (dan juga mobil) erat dengan kemacetan, bensin erat dengan pencemaran, juga batu bara.

Bagaimana mengatasinya?

Berbagai produk di atas telah masuk ke berbagai lini kehidupan. Selain dampak buruknya, proses industrialisasinya menjadi sandaran ekonomi sekian ribu manusia. Rumit untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan.

Jika mau ekstrim, menghentikan dampak buruk harus dengan menghentikan produksi bahan bakar fosil, hentikan penggunaan batu bara, stop produksi kendaraan bermotor (pribadi) dan beralih ke kendaraan massal. 

Tapi apa berani? Ndak. Sampai saat ini tidak. Dampak sosialnya tinggi.

Kemacetan misalnya. Bukan hanya tentang tabiat manusia dalam menggunakan sepeda motor, namun populasi sepeda motor itu sendiri. Populasi ini terkait dengan industri yang mengejar produksi untuk menjaga kesehatan perusahaan, dan menopang sekian ribu karyawannya. Apalagi sekarang malah tambah kendaraan listrik. Yang punya kendaraan listrik, kemungkinan telah punya kendaraan konvensional sebelumnya. 

Bayangkah! Sak adeg gabreg.
Tidak sederhana, Ferguso!

***

Kembali ke plastik. Jika meniru hal di atas, maka solusi masalah platik ya... tutup pabrik plastik. Selesai.

Tapi perlu diingat, plastik juga tidak berdiri sendiri. Namun, meskipun sama-sama tidak berdiri sendiri, plastik punya kaitan erat dengan kehidupan masyarakat bawah.

Jika kita pernah berhenti sejenak di pinggir jalan raya, niscaya akan bertemu dengan sekian penjaja makanan kecil. Mulai dari gipang, kripik telo, kripik pisang, kripik tempe, dan semacamnya. Dagangan itu dibungkus plastik.

Plastik saudara-saudara! Bukan daun pisang atau daun jati. 

Nek dibungkus godong jati, yo mlempem, dul!

Inilah yang saya sebut, bahwa plastik dekat dengan masyarakat bawah. Mereka membawa potensi sampah. Tapi mereka tidak berdaya. Mereka harus menyambung hidupnya. Tak ada opsi lain selain plastik, yang terjangkau modal dan mampu menjaga kualitas dagangannya. Ya, dari juragan mereka sudah seperti itu. 

Lalu, apakah yang harus kita lakukan?

"Beli dagangannya, tapi jangan ambil plastiknya!" Jadi, kita beli kripik, kita masukkan ke wadah yang kita bawa. Lalu plastik wadahnya kita kembalikan lagi ke simbah-simbah yang jualan itu. "Mbah, plastinya kula kondorke, njih". Begitu?

Anda pasti bercanda. Tanpa saya menjelaskan panjang lebar, pasti anda yang waras tidak akan tega melakukannya. 

Plastik yang tak terpakai tetaplah sampah. Di manapun berada.  Dan (pada contoh di atas) anda memberikan sampah itu pada orang yang kemungkinan besar tidak tahu bagaimana mengolah sampah. Itu tindakan lucu dan tentu saja menggemaskan.

"Kalau begitu, jangan beli dagangannya!". Anda mendahulukan peripersampahan, namun tidak berperikemanusiaan. 

***

"Beli dagangannya, tapi plastiknya kelola sendiri, jangan dibawa ke kampus (misalnya, ini misalnya, lho)," teriak lainnya.

Oke!. Pada saran di atas, saya komentari pendek: "Kampus itu tempat intelektual, dunia akademik yang diharapkan menciptakan solusi. Yakin mau lepas tanggung jawab dari permasalahan sosial?"

Pada jenis kampus apapun, fakultas apapun, jika mau menerima manfaat dari makanan, tapi tidak mau bertanggungjawab pada bungkus makanan (yang secara default berbungkus plastik), merupakan bentuk egoisme institusi. 

Selain egoisme institusi, juga bentuk egoisme intelektual. Kadar ke-intelektualnya tercerabut dari masalah-masalah sekitar. Egois, dan mementingkan dirinya sendiri.

Meminjam istilah Julien Benda, bisa saja dekat dengan sikap "pengkhianatan kaum cendikiawan/intelektual".

***

Plastik, antara dihilangkan atau dikurangi.

Menghilangkan plastik ada cara ekstrimnya: tutup pabrik plastiknya. Selesai! Solusi ini, tentu harus dibarengi dengan opsi lain pengganti plastik. Ilmuwan saintek peranannya di sini. Selain itu, tentu kemauan politik para pemegang kekuasaan.

Berbeda jika mengambil pilihan dikurangi. Tentu dengan strategi yang terukur, sistematis, bertanggungjawab, mendidik, adil dan beradab. Salah satunya dengan cara membuat sampah plastik bisa dimanfaatkan ulang. Ini juga tugas para ilmuwan saintek.

Pada proses perplastikan ini, tentu saja juga ada dampak atau risiko sosial. Di sinilah ilmuwan sosial berperan. Kondisi psiko sosial masyarakat harus diperhatikan. 

Jika ilmuwan saintek ikut campur teknis pada masalah sosio-psikologis, akan kacau. Demikian pula, ilmuwan sosial/psikologi ikut campur pada proses teknis penanganan plastik dari sisi saintek, juga akan kacau.

Kolaborasi itu penting, dan ada tertibnya. 

Jadi, mau mengurangi atau langsung menghilangkan? Ingat, para nabi saja gradual dalam berdakwah, dan itupun dilakukan dengan cara dialog dengan baik dan benar (wajadilhum billati hiya ahsan)

***

Plastik yang tak terpakai tetaplah sampah. Di manapun berada. Mendaku rumah anda bebas plastik, tapi anda memanfaatkan produk yang berbungkus plastik, kemudian meninggalkan plastik itu di luar rumah anda, maka klaim rumah bebas plastik itu hanya ilusi belaka. Fatamorgana.

Bahkan. Jika rumah anda bebas plastik, beli hanya makanan berbungkus daun, atau anda punya uang lebih sehingga mampu beli barang yang bungkusnya plastik daur ulang yang ramah lingkungan, dan serterusnya blablabla fufu fafa; tapi jika masih pakai listrik dari pembangkit batu bara, pakai mobil berbahan bakar fosil, ya sama saja.

Anda berbangga-bangga pada satu hal, tapi lupa pada hal lain. Anda masih parsial! Sama seperti yang lainnya, hanya pada kondisi yang berbeda, disebabkan oleh status sosial dan pendapatan. 


Penutup
Jika ditarik ke sejarah plastik, maka sebenarnya perubahan besar memang ditentukan para karya-karya para ilmuwan, para insinyur; namun temuan itu juga punya konsekuensi buruk sekian waktu kemudian. Jadi, ndak usah membangga-banggakan temuan. Biasa saja.

Khususnya tentang plastik, jangan sampai penanganan plastik (dan sampah pada umumnya) justru mengebiri nalar kemanusian dan keadaban, serta tidak berkeadilan. Sehingga justru memunculkan dan meningkatkan dampak sosial dan psikologis yang menjadi ikutan dari adanya penanganan sampah plastik. 

Sebagian besar manusia sepakat, bahwa plastik berpotensi menjadi sampah yang berbahaya bagi lingkungan dan masa depan alam. Tapi, ayolah kita berusaha adil.  Dengan tetap peduli pada alam dan lingkungan; para ilmuwan yang mendaku dirinya intelektual, juga semua pihak tentu harus paham kerangka besar ini. Bukan parsial.


Sekian

Sambisari, 5 Oktober 2024
16 sekian menit, sampai 17.03 WIB

Tuesday, 24 September 2024

Departemen apa yang paling berpengaruh di FT UGM?

Latar belakang
Judul di atas mungkin berlebihan. Bisa jadi. Ndak apa-apa. Sah-sah saja berpendapat demikian.

Ini sebenarnya juga tulisan iseng, atau usaha membangkitkan "keisengan" saya yang agaknya tertidur lama. Sekian lamanya, sehingga di blog ini banyak bulan yang bolong ndak ada tulisan. Kosong.

Kekosongan tulisan sama dengan berkurangnya kontemplasi atau berfikir mendalam. Mungkin juga, kosongnya tulisan ini karena intervensi Instagram. Beberapa tulisan pendek, pendek sekali kadang saya tulis di sana. 

Oke!

Pada tulisan ini, saya hendak memetakan kepengurusan di FT UGM berdasarkan asal departemen. Pengurus dalam hal ini yaitu dekan dan wakil dekan, atau dahulu pernah di sebut pembantu dekan.

Pengurus sangat mungkin lebih ke kompetensi personal, tidak terkait dengan asal departemen. Namun, pada tulisan ini tidak demikian, melainkan.... ya suka-suka saya, lah.😊

Agar lebih mudah dipahami, saya sajikan mirip seperti tulisan ilmiah. Ada latar belakang, ada metode, ada hasil, dan ada kesimpulan.

Oia, tulisan ini sebagai bagian kerja saya sebagai pustakawan. Menyajikan informasi atau olahan data, agar mudah dipahami, atau ditafsirkan. Ya. Meski ndak payu buat angka kredit. 😊

***

Metode

Metode yang saya lakukan dengan cara mencari asal departemen dari dekan dan wakil dekan pada setiap periode. Data nama saya peroleh dari buku Profil Dosen dan Karyawan  FT UGM yang diterbitkan pada tahun 2008, + pengamatan saya pada periode setelahnya. Asal departemen saya peroleh menggunakan metode mengingat. Jika ingatan saya mentok, maka saya coba telusuri dari berbagai sumber. Oia, data saya ambil dari 1991  sampai 2021, atau 10 kepengurusan terakhir.


Kenapa hanya sampai 10 kepengurusan terakhir?
Ya suka-suka saya, lah. 

Jika ada 2 nama yang berasal dari 1 departemen yang sama, maka hanya ditulis 1 departemen saja nama departemen yang sama ditulis pada baris di bawahnya, misalnya lihat baris bertanda tahun 2016. Hal ini dilakukan agar occurence (kemunculan) tetap dapat dipertimbangkan sebagai bobot departemen. Nama departemen asal, saya singkat agar lebih pendek. Misal TE untuk DTETI, TSL untuk DTSL dan seterusnya. 

Setelah terdata, kemudian saya visualkan. Metode visualisasi ini sebenarnya dipakai untuk visualisasi publikasi, misalnya pada bagian kata kunci. 

Batasan penelitian

Tulisan ini sekedar memetakan asal departemen para pengurus FT UGM saja. Departemen yang banyak muncul selama kepengurusan, diasumsikan memiliki pengaruh paling banyak ke fakultas. Tentu saja, boleh sepakat dan boleh tidak dengan hal ini. Ndak papa. 

Hasil dan Pembahasan

Tabel asal departemen dekan dan wakil dekan sejak 1991 s.d. 2021


Di atas merupakan gambar yang menunjukkan departemen asal dekan dan wakil dekan sejak 1991 hingga 2021, atau 10 kepengurusan. 

Kasat mata, pada 10 kepengurusan terakhir, dekan dijabat oleh dosen dari TK pada 3 periode, TSL 3 periode, TAP 1 periode, TM 2 periode (2004 dan 2016 saat pergantian antar waktu), TE 2 periode. 


7 departemen pada 10 kepengurusan

Gambar di atas menunjukkan 7 departemen yang berkontribusi pada 10 kepengurusan di FT UGM sejak 1991 s.d. 2021. Ada 1 departemen yang selama 10 kepengurusan terakhir tidak bergabung pada jajaran dekan atau wakil dekan, yaitu departemen teknik nuklir dan teknik fisika.

klaster jejaring antar departemen

Gambar di atas menunjukkan jejaring antar departemen yang masuk pada 10 kepengurusan terakhir. Jejaring tersebut membagi departemen menjadi 2 klaster. 

  • Klaster pertama terdiri dari: TE, TK, TSL, TGL.
  • Klaster kedua terdiri dari: TM, TAP, TGD
Pembagian ini menunjukkan kedekatan antar departemen (kekuatan jejaring = link strength) pada saat departemen tersebut masuk pada kepengurusan.

Jika klaster tersebut merupakan kata kunci pada paper, maka dapat diperoleh kelompok kata kunci yang saling berkaitan erat.

Departeman yang saling berjauhan, berarti jarak jejaringnya jauh, atau bahkan belum pernah berjejaring.

TAP yang jauh dan tidak terkait dengan TGL

Misalnya, pada gambar di atas TAP berjejaring dengan semua departemen kecuali TGL. Jarak TAP dan TGL pun berjauhan. Hal ini berarti TAP belum pernah satu kepengurusan dengan TGL.

Jika nama departemen tersebut merupakan kata kunci paper, maka akan terlihat keterkaitan kata kunci, dan juga kata kunci yang belum terkait.

Rerata tahun muncul


Hal menarik ditunjukkan pada rerata tahun muncul. DTK (Teknik Kimia) berwarna kuning, dengan rata-rata tahun muncul paling muda, yaitu 2006.5; serta DTGL (Teknik Geologi) yang juga kuning dengan rata-rata tahun kemunculan 2018.5. 

Jika dilihat pada daftar lengkap pada gambar pertama, DTK pernah absen dari kepengurusan di tahun tua, yaitu 1994 dan 1997. Sehingga tahun hadirnya DTK relatif di tahun muda. 

Kemudian TGL sejak 1991 baru muncul di 2016 dan 2021, sehingga warna kuningnya lebih mencolok.

Jika diibaratkan sebuah kata kunci pada paper, DTK dan khususnya DTGL merupakan kata kunci yang sedang naik popularitasnya. Muncul di tahun muda, dan sedang muncul untuk dibahas.

*****

Berdasar data dekan dan wakil dekan pada 10 kepengurusan terakhir, hanya ada 3 dekan yang menjabat 2x, yaitu
  1. Prof. Dr. Ir. Sri Harto Brotowirjatmo, Dip.H., (1994 s.d. 1997 dan 1997 s.d. 1998)
  2. Dr. Ir. Indarto, DEA (2000 s.d. 2004 dan 2004 s.d. 2008)
  3. Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. (2012 s.d. 2016 dan 2016 s.d. 2017)

Selain itu, hanya ada 2  dekan yang pada periode tepat sebelumnya menjabat sebagai wakil dekan, yaitu Prof. Panut Mulyono, dan Prof. Ir. Selo. 

Hal ini menunjukkan pada para dosen yang ingin menjadi dekan, bahwa jadi dekan tidak harus jadi wakil dekan dahulu. Kemampuan mencitrakan diri sebagai orang yang mempu memimpin dan mengemban jabatan dekan lebih diterima.

Prof. Nizam misalnya, yang dapat meyakinkan senat untuk jabatan dekan, padahal sebelumnya tidak menjabat wakil dekan atau bahkan ketua departemen. Selain itu, pada tahun 2000 pada saat pergantian kepengurusan, Dr. Indarto menjadi dekan juga tanpa menjadi wakil dekan.


Susulan analisis
Ini susulan analisis, yang seharusnya dibahas pararel. Namun karena ide analisis ini tidak bareng, maka saya selipkan saja di sini.

Saya coba petakan nama-nama dekan dan wakil dekan per periode, kemudian memvisualkan. Hasilnya saya tampilkan di bawah ini.
nama dekan dan wakil dekan sejak 1991 sampai 2021

Gambar di atas berisi nama dekan dan wakil dekan sejak 1991 sampai 2021. Mohon maaf, saya hanya ambil namanya saja, itupun ada yang tidak lengkap. Semata-mata untuk mempermudah visualisasi.


tabel occurrences dan kekuatan jejaring

Gambar di atas menunjukkan kemunculan nama dan kekuatan jejaringnya. Paling atas ada nama Panut Mulyono dengan 3 kemunculan (2 kali dekan dan 1 wakil dekan), dengan kekuatan jejaring paling tinggi di angka 11.

Jika dirunut lebih jauh, Panut Mulyono mengawali karir di fakultas sejak 1994, kemudian tahun 2017 (atau 23 tahun kemudian) mencapai jenjang jabatan paling tinggi: Rektor (baca di sini). Capaian jabatan Rektor ini agaknya (jika dipaksa dikaitkan) bisa jadi terkait juga dengan cemerlangnya karir di tingkat fakultas. Panut memiliki kemunculan paling tinggi, dan jejaring paling kuat. Artinya tingkat diterimanya Panut di lingkungan fakultas tinggi. Tentu ini menjadi modal besar saat bersaing untuk jabatan rektor pada tahun 2017.

Proses karir Panut Mulyono ini agaknya dapat dijadikan pelajaran, bahwa meniti dari bawah itu menyenangkan, dan menguatkan. Tidak _ujug-ujug_. Mulai dari PPF (Pembantu Pengurus Fakultas), wakil dekan, lalu dekan, dan kemudian rektor.
Mulai dari lurah, bupati, wali kota, gubernur lalu presiden. 

Jejaring antar kepengurusan dekan sejak 1991 sampai 2021

Gambar di atas menunjukkan kelompok pengurus fakultas (dekan dan wakil dekan). Paling kiri kepengurusan 1991 sementara paling kanan 2021.

Terlihat setiap klaster (ditandai dengan warna) saling terkait. Hal ini menunjukkan bahwa kepengurusan di FT UGM itu berkesinambungan.

Maksudnya begini: selalu ada dekan atau wakil dekan pada periode sebelumnya, yang ikut menjadi pengurus pada periode berikutnya.  Tentu saja ini budaya baik, agar ide dan gagasan sebelumnya tetap terjaga dan berlanjut.



Kesimpulan
  • Di atas kertas, DTMI menjadi departemen yang berkontribusi pada 9 kepengurusan dari 10 kepengurusan sejak 1991. DTMI absen hanya pada kepengurusan 2021.
  • Berbeda dengan DTMI, meskipun DTK juga memiliki kemunculan 9, namun DTK hanya ada di 8 kepengurusan. 
  • DTNTF menjadi departemen yang absen pada 10 kepengurusan terakhir
  • Jabatan dekan tidak selalu di awali dengan menjadi wakil dekan. Hal ini terlihat pada 10 kepengurusan terakhir, hanya 2 dekan yang sebelumnya menjabat wakil dekan
  • Kepengurusan di FT UGM selalu melibatkan pengurus sebelumnya
----------------------------------------------------**------------------------------------------------------------------


Sambisari, hari ke 24 bulan 9 tahun 2024
5.50 pagi hari

Baca pula:






Sunday, 22 September 2024

Fufu fafa v.s. Bla bla bla

Di sebuah acara, yang dihadiri 400an mahasiswa Pascasarjana itu, guyon iseng saya muncul. Memang konsepnya sudah saya pikir pikiran sebelumnya.

Saat memberi contoh kalimat tanya pada sebuah AI untuk riset, saya sampaikan "Bagaimana penelitian terkini bidang politik di Indonesia bla bla bla....." Tidak persis, tapi begitu kurang lebih.

Saya lanjutkan, "Kok saya ingin mengubah BLA BLA BLA dengan ungkapan lain, ya". Bla bla biasanya saya pakai untuk manandakan bahwa kalimat itu ada terusannya. Bisa pula saya pakai saat menunjukkan bagian kalimat yang perlu diisi.

"Bagaimana kalau saya ganti FUFU FAFA?".

Mereka menyambut dengan tertawa. Wajahnya menunjukkan kegembiraan.

Saat itulah, panggung saya kuasai. 😂

Sambel bawang, lauk paling enak sedunia

 

Makanan, atau tepatnya lauk yang paling enak itu rendang. Kabarnya demikian. Sudah diakui dunia, disahkan dalam keputusan CNN Internasional. Metodenya survey ke 35 ribu responden melalui Facebook.

Banyak yang menyetujui. Ya utamanya orang dari daerah di mana rendang dibuat atau berasal.

Namun ingat! Bisa makan rendang itu usahanya tidak main-main. Mulai dari modal daging yang harganya tak semua orang bisa menjangkau. Kemudian durasi memasaknya lama. Kalau beli mateng, mahal.

Nah, saya perkenalkan lawuh yang punya potensi untuk menyaingi rendang.

Sambel bawang, lalapan daun pepaya mentah. Kalau ada bisa ditambah tahu atau tempe atau walang goreng. Ini satu kesatuan, ya. Sak batalyon. Tidak boleh dipisahkan.

Dari sisi rasa tidak bisa dibilang kalah. Justru nano-nona. Perpaduan antara pedasnya cabai, pahitnya daun pepaya, dan gurihnya tempe bacem. Ini menandakan bahwa hidup adalah perpaduan antara pahit, gurih, dan juga pedas.

Sempurna, tho?

Dari sisi pembuatan tidak serumit rendang. Jauh lebih mudah dan murah.

Saya kira, sambel bawang tidak masuk nominasi hanya karena para responden ini belum kenal. Atau kenalnya hanya sambel saja. Belum pernah digabung dengan daun pepaya dan tempe bacem.

Utamanya lagi, kemungkinan para responden merupakan orang kaya yang lidahnya tidak terbiasa dengan pahitnya kehidupan.

***

Lawuh sambel bawang itu bisa menaikkan andrenalin. Saat pedas meresap ke pori pori lidah, saat itulah kepuasan hadir tanpa mengetok pintu, melainkan masuk dengan mendobrak.

Hah huh hah..

Rasane tidak terdefinisikan. Saat melihat lalapan masih sisa, hasrat untuk nyambel lagi akan muncul. Saat sambel masih tersisa, gantian hasrat nyiduk sego yang muncul. Begitu bergantian.

Oia.
Sambel bawang ini masih bisa lebih enak lagi. Tentu saja, jika ditambahi rendang. 😂

Saturday, 24 August 2024

Mereka, Dosen atau yang pernah jadi Dosen UGM dan sekarang duduk di kursi komisaris

Kawan, kawan, kawan...

Kursi komisaris agaknya memang menggiurkan. Entah berapa gajinya. Mestinya sih gede. Itu kalau bicara gaji. Jika bicara capaian, tentu capaian bisa duduk di kursi komisaris menjadi satu catatan tersendiri. Membanggakan bagi dirinya, dan tentu saja keluarganya.

"Membuat teman dan keluarga saya bangga", begitu kata pejabat yang konon sedang mengajukan jabatan guru besar. Mungkin mirip.

Status kebanggaan dan capaian tersebut juga bisa berlaku untuk para dosen, mantan dosen, atau yang nyambi jadi dosen, atau sebaliknya: dosen nyambi komisaris.

Berikut beberapa dosen atau pernah jadi dosen di kampus UGM yang kemudian duduk di kursi komisaris

Erwan Agus Putranto (Fisipol) - Angkasa Pura

https://ap1.co.id/id/about/management-team/boc 


Danang Parikesit (Teknik) - InJourney Aviation Services

Arie Sujito (Fisipol) - ID FOOD
Sri Adiningsih (FEB) - Indosat

https://ioh.co.id/portal/id/profdrsridiningsih



Ainun Na'im (FEB) - Bank BPD DIY

https://www.bpddiy.co.id/pages/dewan-komisaris-main



Note:
Tangkapan layar Agustus 2024

Wednesday, 21 August 2024

UGM, Universitas Riset yang ndak punya wakil rektor bidang riset/penelitian?

Note: tulisan ini hanya mengumpulkan info terserak yang ada di permukaan beberapa alamat URL sebagaimana ditulis. Kemudian disandingkan, agar lebih bermakna. Ya. Bagian dari kerja saya sebagai pustakawan, meskipun ndak laku kalau dipakai untuk angka kredit 😆

---

https://ugm.ac.id/id/penelitian/

Rektor UGM periode 2022-2027 melantik para wakil rektornya pada 29 Juli 2022. Ada lima wakil rektor. 

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama (dijabat oleh Ignatius Susatyo Wijoyo, M.M.); kemudian Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni. Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi.

Berita lengkap dan resmi ada di https://ugm.ac.id/id/berita/22766-rektor-ugm-lantik-lima-wakil-rektor-baru/.

https://web.archive.org/web/20220925001032/https://ugm.ac.id/id/tentang-ugm/1500-pimpinan.universitas

Lima WR di atas sesuai dengan SOTK UGM yang tercantum dalam Peraturan Rektor UGM Nomor 10 Tahun 2023, pasal 14,  seperti gambar di bawah ini

https://hukor.ugm.ac.id/download/peraturan-rektor-ugm-nomor-26-tahun-2023/ 

****

Namun, jika kita lihat sekarang (21 Agustus 2024), tidak lagi ada 5 wakil rektor, melainkan hanya ada 4. Empat itu terdiri dari: 

  • Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, 
  • Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni.
  • Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan, dan
  • Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi.
Silakan lihat gambar di bawah ini.

https://ugm.ac.id/id/tentang-ugm/1358-manajemen/1500-pimpinan-universitas/

Berkurang 1. Saya cermati yang ndak ada itu "Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama".  Ke manakah? Mundur, diundurkan, atau memang posisi itu sudah tidak diperlukan. Entahlah. 

Kaget saya.

UGM sebagai universitas riset, atau sebagai perguruan tinggi yang menyandarkan perkembangan ilmu pada riset yang baik dan benar, tapi tidak memiliki wakil rektor bidang riset?

Luar biasa!

Hal pertama yang saya simpulkan adalah komposisi WR saat ini tidak sesuai dengan SOTK UGM sabagaimana tertuang pada Peraturan Rektor UGM Nomor 10 Tahun 2023. Selain itu, jika dilihat pada SOTK Bab V, WR Penelitian memiliki beberapa tugas. 

Pertanyaannya: dilimpahkan kepada siapa tugas itu? Ini entahlah. Saya kurang paham.

Pertanyaan lainnya: ke mana WR Riset sebelumnya?

Saya coba telusuri ke sana dan kemari, menemukan berita ini: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20231006/3644002/lantik-dan-kukuhkan-26-pejabat-di-lingkungan-kementerian-kesehatan-begini-pesan-menkes/

Pada tanggl 6 Oktober 2023, ada pelantikan di lingkungan Kemenkes. Salah satunya ada nama di bawah ini.


Nama yang saya tandai kuning, sama persis dengan nama wakil rektor UGM bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama, sebagaimana saya tulis pada awal tulisan ini.

Nah. Jika misalnya dua nama tersebut sebenarnya orang yang sama, maka jika dihitung sejak pelantikan sebagai WR dan pelantikan sebagai pejabat di Kemenkes, maka:

29 Juli 2022 sampai dengan 6 Oktober 2023, maka tidak ada 15 bulan jabatan wakil rektor bidang penelitian tersebut.

https://rspon.co.id/tentang-kami_02.php

Sekali lagi, benarkah UGM sebagai universitas riset tidak memiliki wakil rektor bidang riset?

Benar. Sesuai data di atas.

Baca juga:


Sunday, 7 July 2024

Posisi Kampusnya Ketua PSI dan Walkot Solo di QS World Ranking

Singapore University of Social Sciences  merupakan sekolahnya Kaesang Pangarep, ketua PSI. Sementara itu, kakaknya, Gibran bersekolah di Management Development Institute Of Singapore (MDIS), dan Universitas Teknologi Sydney. Informasi ini diperoleh dari laman wikipedia masing-masing.

Nah, jika dicek diperankingan, sekolah itu masuk ranking berapa, sih? 

Mari dicek!

***

Pada QS Topuniversities, saya coba filter tahun 2024, untuk dua negara: Singapura dan Indonesia. Paling atas jelas, tak diragukan lagi, ditempati oleh NUS disusul NTU dengan posisi berurutan 8 dan 26 dunia.

Disusul oleh  universitas dari Indonesia, yaitu UI, UGM, ITB, Unair. Pada bagian bawah ada beberapa kampus di Singapura. Misalnya SUTD (429) yang berada di bawah UNAIR, kemudian SMU di bawah IPB. 

Lalu di mana Management Development Institute Of Singapore dan Singapore University of Social Sciences? mungkin di bawah lagi.

Daftar lengkap ada di https://www.topuniversities.com/world-university-rankings/2024?page=1&region=Asia&countries=sg,id dan silakan bisa ubah tahun sesuai tahun yang diinginkan.

Bagaimana dengan University of Technology Sydney?

Saat saya bandingkan antara Indonesia dan Australia, dia berada di posisi 90. Mengungguli UI, yang pada 2024 menjadi univ terbaik Indonesia versi QS yang berada di posisi 237.

Selengkapnya di https://www.topuniversities.com/world-university-rankings/countries=id,au


Ranking di atas berdasar QS, bagaimana dengan THES? Silakan cari sendiri, jika berminat.