Tuesday, 8 October 2019
Monday, 7 October 2019
Gnuplot: alternatif software grafik
Gnuplot is a portable command-line driven graphing utility for Linux, OS/2, MS Windows, OSX, VMS, and many other platforms. The source code is copyrighted but freely distributed (i.e., you don't have to pay for it). It was originally created to allow scientists and students to visualize mathematical functions and data interactively, but has grown to support many non-interactive uses such as web scripting. It is also used as a plotting engine by third-party applications like Octave. Gnuplot has been supported and under active development since 1986 (http://gnuplot.info/)
Berbagai jenis grafik bisa dibuat menggunakan GnuPlot
Gnuplot juga bisa dipanggil sebagai paket di Latex. Silakan baca di https://tex.stackexchange.com/questions/135308/how-can-we-import-the-gnuplot-output-in-latex
Gnuplot bisa jadi alternatif software, jika kiranya software berbayar sulit dijangkau.
Silakan baca panduan Gnuplot di: http://warmada.staff.ugm.ac.id/Buku/gnuplot-double-A4.pdf atau di https://simpan.ugm.ac.id/s/rS0M7ItiesIv7cD (GnuPlot untuk orang lugu)
Berbagai jenis grafik bisa dibuat menggunakan GnuPlot
Gnuplot juga bisa dipanggil sebagai paket di Latex. Silakan baca di https://tex.stackexchange.com/questions/135308/how-can-we-import-the-gnuplot-output-in-latex
Gnuplot bisa jadi alternatif software, jika kiranya software berbayar sulit dijangkau.
Silakan baca panduan Gnuplot di: http://warmada.staff.ugm.ac.id/Buku/gnuplot-double-A4.pdf atau di https://simpan.ugm.ac.id/s/rS0M7ItiesIv7cD (GnuPlot untuk orang lugu)
Thursday, 3 October 2019
Analisis Bibliometrik menggunakan Paket Bibliometrix di R
Bibliometrix, merupakan paket di software R. Info lengkap ada di http://www.bibliometrix.org/. Untuk menjalankan aplikasi ini, perlu memasang aplikasi R, R studio, kemudian memasang paket bibliometrix.
Berikut panduan singkat instal dan menjalankan aplikasi:
Install R: https://cran.r-project.org/
Install R Studio: https://rstudio.com/products/rstudio/download/#download
Jalankan R Studio, kemudian jalankan perintah ini:
> install.packages("bibliometrix")
> library(bibliometrix)
> biblioshiny()
Artikel yang membahas aplikasi ini pernah diterbitkan di Sciencedirect. Judulnya "bibliometrix: An R-tool for comprehensive science mapping analysis", yang bisa diunduh di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751157717300500. Artikel lainnya bisa dilihat di http://www.bibliometrix.org/Papers.html.
Selain itu, baca pula keterangan yang dimuat di https://cran.r-project.org/web/packages/bibliometrix/vignettes/bibliometrix-vignette.html
Install R: https://cran.r-project.org/
Install R Studio: https://rstudio.com/products/rstudio/download/#download
Jalankan R Studio, kemudian jalankan perintah ini:
> install.packages("bibliometrix")
> library(bibliometrix)
> biblioshiny()
Artikel yang membahas aplikasi ini pernah diterbitkan di Sciencedirect. Judulnya "bibliometrix: An R-tool for comprehensive science mapping analysis", yang bisa diunduh di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751157717300500. Artikel lainnya bisa dilihat di http://www.bibliometrix.org/Papers.html.
Selain itu, baca pula keterangan yang dimuat di https://cran.r-project.org/web/packages/bibliometrix/vignettes/bibliometrix-vignette.html
****
Seperti halnya VosViewer (http://ugm.id/ban), Bibliometrix membantu kita dalam membuat visualisasi analisis bibliometrik. Terdapat 7 (tujuh) bagian utama visualisasi pada aplikasi ini. Sources, authors, documents; serta conceptual, intelectual, dan social structure. Setiap bagian memuat sub menu visualisasi.
Ada beberapa perbedaan dengan VV. Salah satunya, Bibliometrix dapat digunakan untuk melihat nasab topik pada sebuah data set. Juga dapat memperlihatkan timeline produktifitas peneliti, membuat plot 3 field, serta beberapa perbedaan lainnya.
Berikut beberapa tangkapan layarnya.
Berikut beberapa tangkapan layarnya.
Silakan ikuti panduan pembacaan visualisasi Bibliometrix di https://bibliometrix.org/documents/bibliometrix_Report.html
panduan versi code ada di https://rdrr.io/cran/bibliometrix/
Monday, 30 September 2019
Dua "kubu" karakter surat edaran kampus tentang aksi gejayan memanggil di Jogja
Visualisasi apakah ini?
Ini visualisasi surat edaran dari beberapa institusi terkait aksi Gejayan memanggil beberapa hari lalu di Jogja (September 2019).
Bagaimana caranya?
Surat edaran kami kumpulkan. Terdapat 9 surat yang terkumpul, masing-masing point pada surat saya cari kata kuncinya. Setelah itu, saya dimasukkan ke Zotero. Judul pada Zotero diisi nama institusi, kemudian kata kunci dimasukkan di tag. Setelah selesai dieksport ke RIS, kemudian dimasukkan ke Vos Viewer.
Apa hasilnya?
Hasilnya ada di bawah ini. Pada bagian kiri, dihuni beberapa institusi (diperlihatkan dengan beberapa warna berbeda) dengan kata kunci dominan: tidak mendukung, akademik tetap berjalan, dll.
| sisi kiri |
Kata kunci itu menunjukkan sikap institusi pada aksi dan pada peserta aksi (mahasiswa). Tidak mendukung artinya tidak mendukung aksi, akademik tetep berjalan artinya hendak menunjukkan bahwa di kampus masih ada proses kuliah. Seolah ingin menyampaikan bahwa aksi yang diadakan itu menyalahi jam akademik.
Sementara sebelah kanan hanya sendirian tidak terkait dengan institusi lain yang ditunjukkan oleh warna yang hanya satu (merah). Kata kuncinya pun berbeda karakternya dengan yang kiri. Sebelah kanan ini justru muncul: tidak melarang, melakukan kajian, serta peduli masalah bangsa.
| Sisi kanan |
Artinya, institusi yang ada di sisi kanan ini ingin menunjukkan sikap tidak melarang aksi, asal dengan kajian, dan peduli (atau menunjukkan kepedulian) pada masalah bangsa.
Keren, kan!
Untuk melihat versi interaktif, silakan cermati dataset yang telah kami pasang di Vosviewer online di bawah ini:
(Silakan tekan Shift + Scrool untuk zoom in/out di Windows)
Lalu, apa artinya?
Ada beberapa institusi yang bersuara sama. Ada yang surat edarannya mirip.
Namun di sisi lain, ada yang sendirian, dan berbeda. Keberanian institusi yang membuat narasi surat edaran berbeda dengan yang lainnya ini (menurut saya) layak diapresiasi. Keren dan joss.
Mana yang masuk kelompok kanan, mana yang kiri? Bisa dicek dari beberapa tangkapan layar di bawah ini.
Kesimpulannya?
Monggo disimpulkan sendiri.
Monggo disimpulkan sendiri.
Data:
Khusus SE UII saya peroleh dari twitter
![]() |
| Sumber: Twitter https://twitter.com/Justitia20_/status/1176000982351634432/photo/1 (info tambahan ada di URL Bernasnews) |
Thursday, 12 September 2019
Bookless library
Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya, ngepos di gardu ronda. Hampir tak ada yang absen. Mereka kolega satu klub dalam meronda. Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.
Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan. Ia, bagaimanapun juga, ingin agar orang lain tahu perkembangan ilmu yang selama ini digeluti. Ya. Meski lebih sering dia ragukan, paling tidak orang lain tahu, bahwa dia pernah kuliah. Sinau di universitas.
***
"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," Paijo membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12, yang sejak lama nangkring di genggamannya.
Teman-temannya diam. Mereka fokus. Konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, tentu saja sambil menghitung-hitung dan memrediksi.
"Sekarang ada yang disebut bookless library" lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.
"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos. Agaknya beberapa point yang ingin dijelaskan dikeluarkan semua. Berharap bisa mencuri perhatian kawan-kawannya.
"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak tambah mantap menjelaskan.
Beberapa lama teman-temannya tetap diam. Mereka tetap fokus pada permainan. Paijo terus bermain sambil meneruskan penjelasannya.
Ketika Paijo sejenak berhenti menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju," Soplo, rival abadi Paijo dalam pergaplean menyela.
"Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini, je" lanjut Soplo.
Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.
"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.
"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Bookless seperti yang kamu bilang tadi. Sama," terang Soplo.
"Di sini apapun bisa. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo melanjutkan.
"Ngopi?, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.
"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.
Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai. Ya dimulai.
Sunday, 8 September 2019
Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif
Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona. Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.
Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan guyub para pustakawannya.
Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.
Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?
Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.
Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?
Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.
Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.
Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.
Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.
Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.
Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.
Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.
Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.
Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.
Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.
Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.
Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).
Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.
Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.
Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona. Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.
Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan guyub para pustakawannya.
Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.
Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?
Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.
Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?
Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.
Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.
Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.
Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.
Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.
Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.
Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.
Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.
Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
|
nama perpus
|
skor (bintang) di Google
|
jumlah komentar
|
rata-rata pemustaka di
perpus (jam)
|
Jam tutup (malam)
|
1
|
ITS
|
-
|
69
|
4
|
19
|
2
|
Kota Jogja
|
4.4
|
394
|
3.5
|
24
jam
|
3
|
UGM
|
4.7
|
255
|
3.5
|
20
|
4
|
UIN Jakarta
|
4.4
|
69
|
3.5
|
20
|
5
|
FT UGM
|
4.7
|
52
|
3.5
|
19.30
|
6
|
UMY
|
4.4
|
28
|
3.5
|
17
|
7
|
UI
|
4.5
|
388
|
3
|
19
|
8
|
UIN Jogja
|
4.6
|
137
|
3
|
18
|
9
|
UNIBRAW
|
4.5
|
129
|
3
|
22
|
10
|
ITB
|
4.8
|
109
|
3
|
21
|
11
|
IPB
|
4.6
|
100
|
3
|
21
|
12
|
USU
|
4.5
|
81
|
3
|
16
|
13
|
UIN Malang
|
4.7
|
44
|
3
|
18
|
14
|
UNSYIAH
|
-
|
19
|
2.5
|
21
|
15
|
UIN Walisongo
|
4.6
|
60
|
2
|
17
|
16
|
UII
|
4.9
|
29
|
-
|
-
|
17
|
UAJY
|
4.3
|
14
|
-
|
19
|
18
|
UIN Sunan Ampel
|
4.1
|
10
|
-
|
18
|
Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.
Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.
Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.
Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.
Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak, juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.
Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.
Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.
Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu.
Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu.
Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.
Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).
Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.
Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.
Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.
Thursday, 25 July 2019
Pustaka Data UGM, tempat menyimpan data agar terus berguna
Data-data tersebut, meskipun sudah diolah dan ditulis dalam laporan, sangat mungkin masih bisa digunakan orang lain yang memiliki kepentingan sama atau mirip. Sehingga perlu disimpan, diarsipkan dengan baik agar mudah ditemukan lagi. Bahkan dikutip.
Selama ini kita kenal Mendeley Data, Figshare, Zenodo dan semacamnya. Nah, UGM membuat Pustakadata. Alamatnya di https://pustakadata.ugm.ac.id.
Untuk bisa mengunggah data ke pustakadata, perlu register lebih dahulu.
![]() |
| Beberapa organisasi yang sudah dibuat |
![]() |
| Jika ada perubahan data, bisa ADD new resource untuk versioningnya |
Friday, 19 July 2019
Tiga tingkatan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi
Paijo ndleming. Di dekat pohon kelapa depan rumah, samping pohon pelem, di atas rerumputan yang sedikit berpasir. Tak jauh dari tempatnya duduk ngebrok, ada pohon belimbing dan jambu air yang daunnya mengering. Maklum, sudah beberapa bulan tidak tersiram air hujan.
Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen.
Terkait maju atau berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.
Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.
Namun…
Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.
Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?
Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.
“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.
Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.
Tingkat kedua (2), ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Posisi 2.1 kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Posisi 2.2 kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan.
Tingkatan ketiga, atau terakhir, atau terendah, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.
Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?
Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.
Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.
Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen.
Terkait maju atau berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.
Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.
Namun…
Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.
Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?
****
Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.
“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.
Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.
Tingkat kedua (2), ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Posisi 2.1 kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Posisi 2.2 kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan.
Tingkatan ketiga, atau terakhir, atau terendah, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.
***
Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?
Dan, idealnya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dipimpin oleh pustakawan.
Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.
Karyo: “lha, kalau perpus jenis ini dipimpin dosen Ilmu Perpustkaan, Jo?”, tanya Karyo.
Paijo: “ya ndak pa. Pada dasarnya ndak salah, kecuali melanggar aturan institusi tersebut. Tapi..”
Karyo: “tapi apa, Jo?”
Paijo: “tapi itu menunjukkan ada titik belum suksesnya pendidikan ilmu perpustakaan di PT tersebut”.
Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.
Paijo: “memang, Kang. Ada yang begitu kompleks masalahnya. Justru kekompleksan masalah itulah wilayah para dosen ilmu perpustakaan, untuk menunjukkan derajat ilmu perpustakaannya pada manajemen universitas”.
Karyo: "bagaimana jika dosen ilmu perpustakaan pun tidak mampu?"Paijo: "berarti dia memang sekedar dosen, Kang. Hanya berkutat teori"
***
Karyo mengangguk. Namun, tetap dia ingin menguji Paijo dengan pertanyaan lagi. "Bagaimana jika dipimpin oleh tenaga kependidikan selain pustakawan, sekaligus bukan bukan dosen ilmu perpustakaan, Jo?", Karyo bertanya.
Paijo mesem. Dilihatnya pohon jambu dan belimbing yang daunnya layu. Lama sekali hujan tak turun. Kemarau tahun ini begitu panjang.
Sambisari,
Jumungah Kliwon 16 Dulkangidah Be 1952
Monday, 8 July 2019
Hari pustakawan: sebuah ilusi
![]() |
| laman web perpusnas |
Selamat hari pustakawan!!!
Demikian teriak seorang kawan. Teriakan yang keras, dan menyimpan kebanggaan.
Sejak lama, predikat "HARI" memang punya daya magis, sakral, dan sangat memikat. Mulai dari hari berdirinya negara, pernikahan, hari lahir.
Bahkan hari jadian, ditolak atau putus dari pacar. Hari itu diingat, meski mungkin ada kenangannya yang berusaha dilupakan. Pahit.
#eaaa
Sebenarnya, ada yang salah kaprah. Tepatnya bukan hari, tapi tanggal. Hari Kesaktian Pancasila itu bukan hari Senin, Selasa, Rabu, atau lainnya. Namun wujudnya tanggal (dan bulan): 1 Oktober. Hari dan pasarannya pun bisa berganti: wage, kliwon, pahing, pon, atau legi.
Dan, jika pustakawan punya "HARI" khusus, pastilah juga demikian. Bangga, dan bisa mendukung eksistensi diri dan profesinya. Sama dengan profesi lain yang punya hari.
Namun, benarkah ada hari (tanggal) pustakawan?
Sebagai pustakawan, saya termasuk tidak literate dengan hari-hari besar bidang perpustakaan. Mulai dari hari pustakawan, hari kunjung perpustakaan, hari buku, dan semacamnya.
Saat ini, saat menulis ini, saya tidak hafal (meski pernah mendengar) tanggal hari buku dan hari kunjung perpustakaan.
Lebih akrab dengan menghitung hari menjelang gajian, atau hari libur. Apalagi libur panjang. Saya bisa hafal kapan mulai, dan kapan berakhirnya. Lebih hafal dari hari lahir istri saya.
Tenin...
Kembali ke hari pustakawan.
Beberapa waktu lalu, di sebuah grup WA ada yang menulis: Hari Pustakawan 7 Juli. Rasa penasaran muncul. Tepatnya juga pertanyaan.
#eaaa
Sebenarnya, ada yang salah kaprah. Tepatnya bukan hari, tapi tanggal. Hari Kesaktian Pancasila itu bukan hari Senin, Selasa, Rabu, atau lainnya. Namun wujudnya tanggal (dan bulan): 1 Oktober. Hari dan pasarannya pun bisa berganti: wage, kliwon, pahing, pon, atau legi.
Dan, jika pustakawan punya "HARI" khusus, pastilah juga demikian. Bangga, dan bisa mendukung eksistensi diri dan profesinya. Sama dengan profesi lain yang punya hari.
Namun, benarkah ada hari (tanggal) pustakawan?
Sebagai pustakawan, saya termasuk tidak literate dengan hari-hari besar bidang perpustakaan. Mulai dari hari pustakawan, hari kunjung perpustakaan, hari buku, dan semacamnya.
Saat ini, saat menulis ini, saya tidak hafal (meski pernah mendengar) tanggal hari buku dan hari kunjung perpustakaan.
Lebih akrab dengan menghitung hari menjelang gajian, atau hari libur. Apalagi libur panjang. Saya bisa hafal kapan mulai, dan kapan berakhirnya. Lebih hafal dari hari lahir istri saya.
Tenin...
****
Beberapa waktu lalu, di sebuah grup WA ada yang menulis: Hari Pustakawan 7 Juli. Rasa penasaran muncul. Tepatnya juga pertanyaan.
Memang ada hari pustakawan?
Nggaya temen.
Hijrana, anggota grup, menulis tentang hari pustakawan. Dia mengawali tulisannya dengan protes pada pandangan publik yang menganggap bahwa pustakawan itu penjaga buku. Dia anggap itu tidak tepat. Dia menulis, "Jika ada yang berfikir bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku, maka pemikiran itu tidaklah tepat karena perpustakaan merupakan pusat peradaban dan perubahan"
Pengandaian Hijrana tentang pustakawan, namun ketidaksetujuannya dengan pandangan tentang pustakawan itu didasarkan dengan alasan tentang perpustakaan. Saya tak mampu mencerna dengan sempurna, apa maksudnya.
Kalau perpustakaan memang sebuah pusat peradaban dan perubahan, apakah itu menegasikan anggapan pustakawan itu penjaga buku?
Silakan cek tulisannya di http://perpustakaan.uin-alauddin.ac.id/hari-pustakawan-indonesia/.
Oke, saya tak ingin berpanjang lebar tentang hal di atas. Saya tertarik pada angka 6 Juli, yang disebut Hijrana sebagai Hari Pustakawan. Ini dikuatkannya dengan pemilihan judul REFLEKSI HARI PUSTAKAWAN 6 JULI.
Sementara, pustakawan lainnya, Ahmad Syawqi menulis ikhwal hari (lahir) pustakawan pula. Kemuliaan Menjadi Pustakawan, demikian judulnya. Di dalamnya ada keterangan "refleksi hari lahir pustakawan Indonesia".
Syawqi mengawali tulisannya dengan tegas menyebut betapa bersejarahnya tanggal 7 Juli.
Namun, berbeda dengan Hijrina, di blog https://www.pustakawan.web.id/, Syawqi tidak tegas menyebut hari Pustakawan, namun Syawqi cenderung memilih 7 Juli sebagai hari lahir pustakawan Indonesia.
Informasi lainnya, misalnya https://www.facebook.com/perpus.kaltim/posts/, mengawali tulisannya dengan "6 Juli, Hari Pustakawan Indonesia.". Sementara dan https://www.instagram.com/, menuliskan 7 Juli. Artinya, ada bermacam kesimpulan tentang Hari Pustakawan ini.
Jika memang sudah mapan, mestinya tidak ada perbedaan, meski hanya selisih tanggal. :)
Jika pada hari Guru atau hari yang paling baru, Hari Santri, ada upacara memperingatinya; lalu apa yang dilakukan pustakawan pada hari pustakawan?
Upacara juga?
Seberapa penting hari pustakawan? Atau hari pustakawan 6/7 Juli itu hanya sebatas igauan, imajiner, ilusi, khayalan, atau angan-angan yang didorong oleh keinginan luhur, agar profesinya sama dengan Guru yang memiliki Hari Guru?
Mereka lupa, bahwa guru itu punya seragam. Sedangkan pustakawan tidak. Guru itu punya IKIP, sedangkan pustakawan tidak.
Ada atau tidaknya hari pustakawan, pustakawan itu tetap bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita semua adalah pustakawan.
Nggaya temen.
Hijrana, anggota grup, menulis tentang hari pustakawan. Dia mengawali tulisannya dengan protes pada pandangan publik yang menganggap bahwa pustakawan itu penjaga buku. Dia anggap itu tidak tepat. Dia menulis, "Jika ada yang berfikir bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku, maka pemikiran itu tidaklah tepat karena perpustakaan merupakan pusat peradaban dan perubahan"
Pengandaian Hijrana tentang pustakawan, namun ketidaksetujuannya dengan pandangan tentang pustakawan itu didasarkan dengan alasan tentang perpustakaan. Saya tak mampu mencerna dengan sempurna, apa maksudnya.
Kalau perpustakaan memang sebuah pusat peradaban dan perubahan, apakah itu menegasikan anggapan pustakawan itu penjaga buku?
Silakan cek tulisannya di http://perpustakaan.uin-alauddin.ac.id/hari-pustakawan-indonesia/.
Oke, saya tak ingin berpanjang lebar tentang hal di atas. Saya tertarik pada angka 6 Juli, yang disebut Hijrana sebagai Hari Pustakawan. Ini dikuatkannya dengan pemilihan judul REFLEKSI HARI PUSTAKAWAN 6 JULI.
Sementara, pustakawan lainnya, Ahmad Syawqi menulis ikhwal hari (lahir) pustakawan pula. Kemuliaan Menjadi Pustakawan, demikian judulnya. Di dalamnya ada keterangan "refleksi hari lahir pustakawan Indonesia".
Syawqi mengawali tulisannya dengan tegas menyebut betapa bersejarahnya tanggal 7 Juli.
Namun, berbeda dengan Hijrina, di blog https://www.pustakawan.web.id/, Syawqi tidak tegas menyebut hari Pustakawan, namun Syawqi cenderung memilih 7 Juli sebagai hari lahir pustakawan Indonesia.
Informasi lainnya, misalnya https://www.facebook.com/perpus.kaltim/posts/, mengawali tulisannya dengan "6 Juli, Hari Pustakawan Indonesia.". Sementara dan https://www.instagram.com/, menuliskan 7 Juli. Artinya, ada bermacam kesimpulan tentang Hari Pustakawan ini.
Jika memang sudah mapan, mestinya tidak ada perbedaan, meski hanya selisih tanggal. :)
****
Sekarang mari kita lihat laman web hari-hari penting yang ada di web Perpusnas (https://www.perpusnas.go.id/). Laman ini menyajikan tanggal penting terkait hari hari yang tentu dianggap bermakna. Anehnya tidak tercantum tanggal 6 atau 7 Juli sebagai hari Pustakawan. Setelah 5 Juli, langsung mlumpat ke 9 Juli. Entah.
Mungkin khilaf, atau sebenarnya juga meragukan.
Mungkin khilaf, atau sebenarnya juga meragukan.
****
Upacara juga?
Seberapa penting hari pustakawan? Atau hari pustakawan 6/7 Juli itu hanya sebatas igauan, imajiner, ilusi, khayalan, atau angan-angan yang didorong oleh keinginan luhur, agar profesinya sama dengan Guru yang memiliki Hari Guru?
Mereka lupa, bahwa guru itu punya seragam. Sedangkan pustakawan tidak. Guru itu punya IKIP, sedangkan pustakawan tidak.
Ada atau tidaknya hari pustakawan, pustakawan itu tetap bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita semua adalah pustakawan.
Setiap hari lahir kita, adalah hari pustakawan. Setiap hari, adalah hari pustakawan.
Selamat hari pustakawan, sepanjang masa...!!!
Saturday, 6 July 2019
Kumpulan belajar Latex di Sadasa Academy
Sabtu, 6 Juli 2019. Di Sadasa Academi, saya coba mengikuti pelatihan Latex. Meski beberapa kali saya pernah menulis menggunakan Latex, namun tentu ada banyak hal yang saya belum tahu, dan paham.
Untuk belajar lagi itulah, saya ikut,
Benar saja, saya refresh lagi tentang beberapa perintah latex. Dua tipe bibliografi (embedded dan bib: bibtex, natbib, biblatex), manipulasi font, warna, multiple image, multiple formula, serta paket lipsum yang memudahkan dalam membuat dummy.
Berikut beberapa tautan penting selama pelatihan dan yang saya temukan sebelumnya.
- http://merkel.texture.rocks/Latex/natbib.php, berisi perintah menulis cite dalam berbagai style natbib
- http://hostmath.com/, alternatif latex4technic untuk membuat rumus
- http://detexify.kirelabs.org/, membuat rumus dengan menuliskannya
- https://www.tablesgenerator.com, membuat tabel untuk latex. Alternatif latable
- http://www.texample.net/tikz/examples/, membuat taxonomy atau flowchart
- https://www.overleaf.com/learn/latex/LaTeX_Graphics_using_TikZ:_A_Tutorial_for_Beginners_(Part_1)%E2%80%94Basic_Drawing
- https://www.overleaf.com/learn/latex/Inserting_Images#Positioning
- https://tex.stackexchange.com/questions/115690/urls-in-bibliography-latex-not-breaking-line-as-expected























