Tuesday, 7 November 2017

, ,

Ilmu informasi! Opo kui?


Ngobong uwuh
Purwo.co - Di tengah perjuangan pustakawan dengan (ilmu) perpustakaan yang dipelajarinya –ya, meski juga ada pustakawan yang tidak perlu belajar (ilmu) perpustakaan di bangku kuliah-, pustakawan "diganggu" dengan ilmu informasi, atau lebih nggaya dengan sains informasi.

Sebenarnya, apa itu ilmu informasi? Eit. Sebelum dilanjut baca, tulisan ini hanya tulisan sembarangan, lho. Iseng saja, cari bahan untuk ngisi blog.

Paijo: "Kok iseng, tho?"
Karyo: "Jarene dunia ini hanya senda gurau, Jo. Apalagi cuma praktisi, bukan ilmuwan. Yo, iseng wae lah"

Kata Mbah Borco, ilmu informasi merupakan “..relating to origination, collection, organization, storage, retrieval, interpretation, transmision and utilization of information”. Ini cuma potongan saja dari keterangan Mbah Borco, tahun 1968. Pokoknya, menurut si Mbah, kaitannya dengan interpretasi, penyimpanan, pengelolaan, pemindahan, penggunaan informasi. Sepertinya ini pengertian yang cukup sederhana, namun turunannya akan sangat banyak.

###

Nah, sekarang menurut Om William tahun 1987. Ilmu informasi itu menggunakan teori, prinsip, teknik, teknologi dari berbagai disiplin ilmu untuk solusi masalah informasi. Nah, Om Willian menambahi disiplin ilmu yang tergabung pada ilmu informasi yaitu: ilmu komputer, kognitif, psikologi, logika, matematika, teori informasi, elektronik, komunikasi, linguistik, ekonomi, ilmu klasifikasi (klasifikasi opo iki, ya?), ilmu sistem, ilmu perpustakaan, dan ilmu manajemen.

Om William ini agaknya rodo nggaya. Lah bagaimana tidak nggaya, lah mau memborong berbagai ilmu digabung, jadi lotek. O, kleru, dudu lotek, tapi jadi satu dalam ilmu informasi. Lalu sedalam apa nanti ilmu yang dikuasai ilmuwan alumni ilmu informasi?. Ketika dia bisa menguasai manajemen, tapi juga psikologi, logika, juga matematika, lalu komputer dan juga elektronik, itukan sudah level ilmu dewa. Ilmu yang penguasanya pasti orang yang linuwih dibanding lainnya.

Atau, mungkin hanya kulitnya saja, atau dipilihi, diayak yang penting-penting saja terkait ilmu informasi. Misal, matematika, ndak perlu sampai tahu sin-cos-tan, tapi cukup bisa menghitung berapa kali sebuah artikel dikutip orang lain. Ya, akar kuadrat atau teori peluang juga perlu dikuasai, agar bisa memprediksi gerak acak sebuah informasi dengan lebih tepat.

Kalau ilmuwan ilmu informasi mampu memprediksi informasi yang akan muncul kemudian, apalagi pada masa-masa kampanye pilihan lurah, kan bisa dijual itu analisisnya. Hasilnya bisa untuk madhyang sekeluarga.

###

Berikutnya, Mas Saracevic. Agaknya si Om ini baru saja membuat definisi ilmu informasi, yaitu tahun 2009, sudah milenium ke tiga. Mas  Cevic menuliskan,  “information science is the science and practice dealing with the effective collection, storage, retrieval and use of information”. Penak tenan pengertian ini, mirip sama Mbah Borco.

Pada tulisan lainnya, Mas Saracevic menyampaikan bahwa ilmu informasi punya tiga karakteristik. Pertama interdisipliner, kedua tidak dapat dielakkan bahwa ilmu informasi berhubungan dengan teknologi informasi. Ketiga, bersama bidang lainnya, ilmu informasi turut berperan dalam evolusi masyarakat informasi. Ilmu informasi punya dimensi kuat pada aspek sosial dan kemanusiaan, dari pada teknologi.


###

Kurikulum ilmu perpustakaan dan ilmu informasi. Sumber sini
Ketika orang bicara perpustakaan, maka yang akan diingat atau terbayang adalah buku.  (Ilmu) perpustakaan, yang paling tua adalah mengelola buku (dalam berbagai bentuknya). Namun seiring perkembangan jaman, pembatasan “buku” sebagai yang dikelola di perpustakaan oleh pustakawan menjadi tidak lagi relevan. Kenapa? Karena yang dikelola pustakawan bukan hanya buku, tapi yang lebih luas lagi, “informasi”.

Trus, apa ilmu informasi ada sambung rapetnya dengan ilmu perpustakaan? Jelas ada. Karena secara lebih luas yang dikelola itu informasi, maka dimunculkanlah ilmu informasi. Nah, karena jaman now ini adalah jaman teknologi, maka pengelolaan informasi juga harus ada sentuhan teknologi. Yang dikelola pun juga informasi dalam arti luas. Coba saja lihat tiga pengertian di atas.

Ilmu perpustakaan sudah tidak lagi relevan, mulai terganggu, dan dari sisi pengelola program studi, daya jualnya sudah menurun. Dia harus diolah, dibumbui biar sedap, meski hasilnya akan beda nama, dikembangkan, kemudian lahirlah ilmu informasi. Kemajuan jaman, canggihnya teknologi, kenyataan mudahnya buku diperoleh di internet baik legal atau ilegal, menjadi “gangguan” bagi perkembangan (ilmu) perpustakaan. Pengembangan ilmu informasi merupakan bentuk strategi atau rumah baru, untuk bernaung  dari gangguan tersebut, atau bernaung ketika ilmu perpustakaan lambat laun menunjukkan kejenuhan.

###

Lalu apa pekerjaan santri lulusan ilmu informasi, jika dia kerja di perpustakaan? Sori lho, ya. Saya tulis perpustakaan atau “di” perpustakaan, karena Karyo dan Paijo, penghuni blog ini serta bolo dupaknya merupakan orang yang mengabdikan diri di perpustakaan, setelah mengenyam atau mencerap ilmu dari para ilmuwan yang tidak kenal lelah mengajar mereka. Mereka-mereka itu perlu tahu, apa pekerjaan orang yang akan menemani mereka bekerja di perpustakaan. Sehingga saya sodorkan pertanyaan di atas. Mereka ndak berani tanya sendiri.

Paijo: “Yo, njuk apa pekerjaan sehari-hari rekan-rekan alumni padepokan ilmu informasi?”
Karyo: “Jo, aku ya durung weruh. Nak ada alumni padepokan ilmu informasi, kabari aku. Kita bisa bareng-bareng tanyakan ada mereka. Ya idheb-idheb ngangsu kawruh.

Pertanyaan itu muncul, bukan karena takut saingan, tapi agar bisa menyesuaikan diri. Begitu kira-kira keinginan Karyo dan Paijo.

###

Njuk, apa sikap pustakawan?
Bagi  pustakawan yang memang telah jadi pustakawan dan bukan alumni ilmu informasi murni, maka bekerja sebaik-baiknya merupakan pilihan terbaik. Sembari mempelajari hal baru, sebagai bentuk kewajiban pustakawan untuk belajar sepanjang hayat.

Baca juga: Mandiri dan belajar seumur hidup: ruh pengembangan diri pustakawan

Jaman sekarang, ngejar ilmu bisa dilakukan mandiri, apalagi pustakawan. Banyak sarana yang bisa digunakan, bahkah dengan tak ada departemen ilmu informasi di sekitar kita. Lihat saja silabus ilmu informasi, pelajari secara mandiri, apa yang belum pernah dipelajari ketika kuliah ilmu perpustakaan. Coba lihat gambar di atas. Nah bandingkan saja, lalu pelajari dengan baik.

Paijo: "Lalu irisan yang belum dipelajari?"
Karyo: "kursus, Jo" 

Siapa tahu, nanti ada yang buka kursus. Seperti hobi institusi yang baru saja  punya gedung baru itu. Kan proyek baru. “Diklat menjadi ilmuwan informasi”, begitu judulnya. Apik tho?

Kalau saat ini tetap ngotot ingin tahu peran ilmu informasi di perpustakaan, lihatlah alumni ilmu informasi yang bekerja di perpustakaan, cek apa yang dilakukannya setiap hari.

Bacaan:
Saracevic, T. (1999). Information science. Journal of the American Society for Information Science, 50(12), 1051–1063. https://doi.org/10.1002/(SICI)1097-4571(1999)50:12<1051::AID-ASI2>3.0.CO;2-Z
https://www.asist.org/about/information-science/ 



Sambisari, 7 November 2017
5.39 pagi

Monday, 6 November 2017

,

Sejak kematian monitor (TV) itu…

Purwo.co -- Tanggal 27 Oktober 2017, istri saya mengirimkan pesan melalui whatsapp. “Monitor tv-ne gak mau nyala, yah”. 

ketika masih lumayan normal
Itulah hari terakhir --sejak beberapa kali monitor dan tuner TV itu bermasalah-- tv itu bisa menyala. Sebenarnya bukan TV beneran. Tepatnya monitor komputer, yang difungsikan jadi tv, bahkan bergantian juga sebagai monitor komputer ketika masih punya CPU. Sejak menikah, kami menonton tv menggunakan monitor tersebut, dengan dilengkapi tv tuner. Kami punya 3 tv tuner.  Pertama tv tuner nggenteni dari Pak Ngudi, teman kerja di Teknik Geologi, yang beliau beli di pasar barang bekas Jogja. TV tuner pertama ini jadi percobaan.  Kemudian, karena rusak, saya membeli baru dari beberapa toko elektronik di Jogja. 

Monitor tersebut, bukan TV. Karena bukan TV, kerap saya gunakan sebagai alasan menjawab orang yang menawarkan TV kabel pada saya. “Saya mau pasang pakai apa, Mbak? Wong saya ndak punya TV”, begitu biasanya saya jawab. 

Monitor tersebut, bertahan sejak 2008 sampai 27 Oktober 2017. Dengan ditandai WA dari istri saya tersebut di atas, habislah masa bhaktinya. Sebelumnya, kabel monitor pernah meleleh, saya belikan kabel baru, beres. Namun kerusakan kali ini, bukan pada kabel yang dicolok ke listrik, namun ujung kabel yang ada di monitor plus tiga besi yang terhubung ke colokan. Meleleh. 

Selain itu, layar sudah tidak full, tidak penuh. Hanya sebagian saja yang berfungsi, sebagian yang lain hitam. Kalau menonton pertandingan bola, kami tidak dapat melihat skor dengan jelas. Ya, karena garis hitam yang ada di monitor tepat pada angka skor, bahkan juga menutup nama klub yang bertanding. Kalau nonton OK-Jek –tontonan favorit kami--, kami kadang kehilangan ekspresi Odet yang lucu, Sely yang judes. Bahkan rambut Mbak Prima yang berwarna-warni itu terkadang hanya kelihatan sebagian. Oia, namun juga ada baiknya, lho. Karena ekspresi penindasan dari Mbak Mawar pada Odet, terkadang tertutup oleh garis hitam pada monitor. Ah, syukurlah, akhirnya kami terhindar dari perasaan mangkel. 

Pertandingan U19 Indonesia vs Korsel kemarin pun, kami tidak bisa nonton. Ketika ada yang posting MotoGP di grup WA, kami tak lagi bisa menonton. Bahkan, acara Maiyahan di TV lokal Jogja itupun tinggal cerita. Satu lagi, kami kehilangan ekspresi nggaya Ari Kriting yang kerap menjawab pertanyaan Cak Lontong di acara WIB secara tepat. 

Sejak 27 Oktober, sudah seminggu lebih kami hidup tanpa TV. Rasanya ada yang hilang, namun ada yang menyenangkan. Waktu sore hari, dihabiskan dengan membaca buku (cie….), ngobrol, atau ngetik tulisan untuk blog #halah.

Selain itu, kami mengandalkan radio. MBS FM, Videk, dan beberapa radio lainnya, akrab kami putar. Campur sari asli Pak Dhe Manthos, Mas Didi Kempot, Yu Nyahni, atau lek Lasmini jadi andalan. Nama terakhir ini saya panggil Lek, karena kabarnya memang masih ada urutan saudara dengan saya. Selain itu, juga lagu kenangan, atau pengajian lokal Jogja. Tak lupa, kadang wayang kulit semalam suntuk diputar untuk mengisi suasana. 

“Hoooooooooengngngngng”, sluluk Pak Dalang itu serasa nyamleng neng ati. Oia, suara lantang anak-anak di radio Videk, yang melantunkan geguritan atau mocopatan itu sungguh sangat mengagumkan. 

###  

Siaran tivi sekarang, agaknya memang berbeda dari tv jaman kecil dulu. Kudu pinter milih saluran yang layak tonton. Ya, sekarang banyak siaran yang berkualitas di tv kabel, tapi ya ana rupo ana rego

Memilih saluran  atau siaran tivi, seperti memilih jalan hidup, memilih ideologi, memilih jalan fikiran, atau memilih masa depan. 

Saya, kami, tidak tahu sampai kapan bisa bertahan tanpa televisi. Apakah dalam jangka waktu yang lama, atau tak kuasa untuk ngitung-itung tabungan lalu beli tivi baru.

Yang pasti, sejak matinya layar TV itu, satu harapan kami: beban biaya listrik bisa turun. 

Paijo: "mesakke temen kowe, Kang".

Sambisari, 6 November 2017
3.37 dini hari



Saturday, 4 November 2017

Menanti doktor (ilmuwan) perpustakaan yang rela nge-blog ala Dongeng Geologi

Purwo.co – Dongeng Geologi yang saya maksud di sini yaitu blog yang beralamat di rovicky.com. Sebuah blog yang menyajikan analisis geologi terkait sebuah fenomena geologi yang terjadi. Blog ini ditulis oleh Pak Dhe Rovicky Dwi Putrohari, alumni Teknik Geologi UGM. Saya mengenal Dongeng Geologi (selanjutnya saya tulis DG) ketika bekerja di perpustakaan teknik geologi. Kurang lebih bersambungan dengan kejadian gempa jogja beberapa tahun silam.

Dongeng geologi (DG) menyajikan analisis yang enak dibaca, meskipun tentunya memuat istilah-istilah geologi. Orang awam, dapat memulai memahami ilmu geologi dari blog ini. Kumpulan informasi di dalamnya, dapat digunakan oleh masyarakat (misalnya yang terdampak bencana geologi yang diulas dalam DG) untuk memahami bencana, potensi bencana yang terjadi di sekitarnya, serta bagaimana bersikap atas bencana tersebut.

Tambahan gambar pada tulisan, mempermudah penafsiran. Lisensi copyleft yang tertera di panel sebelah kanan, mengijinkan penyebarluasan info di blog, dicetak lalu dijual atau dipakai sebagai bungkus kacang, asalkan tak menghapus catatan hak cipta, serta mencantumkan sumber. Lisensi ini, benar-benar ramah penyebaran informasi dan pengetahuan.

Paijo: “sehingga masyarakat bisa literate pada bidang geologi, Pak Dhe?”
Pak Dhe: “iyo, Thole. Baik ilmunya, bencananya dan lainnya”

Penulis menambahkan bumbu dialog antara Pak Dhe dan Thole. Dialog ini terkadang sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh pembaca, dan ingin ditanyakan pada penulis. Seperti Paijo yang bertanya pada Pak Dhe di atas. Jawaban Pak Dhe, tentunya juga hanya rekaan saya saja. 

Sampai saat tulisan ini diposting, ada 1.633 subscriber ke blog DG. Artinya ada sejumlah 1.633 email yang setia menanti notifikasi tulisan baru Pak Dhe Rovicky. Jumlah ini tentunya besar. Agaknya dari sekian email ini, bukan hanya dari Indonesia saja, namun juga dari luar negeri. Terbukti, tulisan dari DG juga dikutip oleh tulisan ilmiah di jurnal-jurnal luar negeri. Klaim Pak Dhe Rovicky, berdasar trafik yang terekam pada server, ada 3-12 ribu pengunjung perhari, serta selama 11 tahun berjalan ada 9 juta pengunjung.

Saat ini, Pak Dhe ingin membuat DG abadi, mandiri dan memiliki pengaruh lebih besar. Silakan cek di https://kitabisa.com/impiandongenggeologi

###

Apa yang bisa dipelajari?
Saya membayangkan, jika para ilmuwan perpustakaan, yang selalu menggaungkan ilmu untuk semuanya, keterbukaan informasi, dan semacamnya itu, ada yang mau kosisten menulis dengan bahasa sederhana seperti DG, pasti akan banyak manfaatnya.

Setidaknya, tulisan ilmuwan perpustakaan tersebut akan memiliki dampak yang baik bagi pustakawan, karena memiliki sandaran sumber yang mudah dipahami untuk dilaksanakan.
Bagi orang di luar perpustakaan, akan turut memperbaiki pandangan mereka pada perpustakaan. Dan bagi siswa SMA, akan meningkatkan penilaian mereka pada (jurusan ilmu) perpustakaan, sehingga tertarik masuk jurusan (ilmu) perpustakaan. Cara ini, tentunya lebih baik dan elegan, daripada mencetak brosur, atau paling tidak akan menambah daya gedor pengenalan (ilmu) perpustakaan.

Siapa yang diharapkan menulis ala DG ini? Ya, terutama ilmuwan perpustakaan, terutama lagi yang telah bergelar doktor, yang ilmunya telah paripurna.

Para doktor ini, tentunya memiliki pengetahuan linuwih, dan cara menulis yang linuwih dibanding pustakawan yang sehari-hari bekerja di perpustakaan. Namun, tentunya cara menulis yang linuwih tadi, disesuaikan agar mudah dipahami oleh semuanya. Menulis blog yang sederhana, menjadi bagian dari pengabdian masyarakat mereka. Untuk tulisan ilmiah bermutu setinggi langit, tentunya harus diikhlaskan jika mereka kirimkan ke jurnal atau konferensi berkelas wahid. Praktisi harus maklumi, mereka, (para ilmuwan) perlu bergaul dengan ilmuwan manca, untuk meningkatkan kapasitas ilmunya.

Namun,, jangan sampai para ilmuwan ini hanya fokus pada konferensi, jurnal, pertemuan ilmiah internasional atau riset kolaborasi yang yang butuh biaya banyak dan menarik namanya melambung tinggi. Tapi tidak ditemukan jejaknya di bumi.

Yakin, sudah banyak doktor bidang perpustakaan, atau ilmuwan perpustakaan yang ilmunya telah paripurna sampai di jenjang S3. Yang perlu diperbanyak, adalah mereka  yang mau menulis blog, dengan tulisan sederhana bidang kepustakawanan, yang bisa mudah diakses dan mudah dicerna, dikonsumsi semuanya.

Pak Dhe: "sehingga masyarakat bisa literate pada (ilmu) perpustakaan, Jo?"
Paijo: "njih, Pak Dhe".

Atau, jangan-jangan mereka sudah pindah ke ilmu informasi? 

Ah, ini hanya harapan. Allah lebih tahu yang terbaik untuk makhluknya.

Sambisari, 4 November 2017
7.32 pagi

Referensi

Monday, 30 October 2017

, , , ,

Macapat, samroh dan shalawat Jawa di Sambisari: sebuah piwucal kehidupan penuh makna

Tulisan ini tentang dusun yang saya tinggali sekarang: Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Sebuah dusun, yang di wilayahnya terletak sebuah candi, yang konon dibangun pada masa Mataram kuno, pada jaman Rakai Garung. (Silakan lihat http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_sambisari)

###

Pentas Macapat
Tahun lalu, seorang bapak yang sudah berumur lebih setengah abad, naik ke atas panggung yang dibangun kokoh di selatan Candi Sambisari. Macapatan, begitu salah satu rangkaian acara yang beliau isi. Bait-bait macapat begitu fasih dilantunkan. Suaranya yang merdu -yang sudah sering saya dengar ketika beliau menjadi imam sholat- menjadikan bait macapat yang dibacakannya terdengar berat dan sarat makna. Dia dikenal dengan Pak Slamet, ro’is di kampung Sambisari.


***

Tahun ini, Sabtu malam Minggu, tanggal 28 Oktober 2017, Pak Slamet kembali naik panggung, pada acara yang sama seperti tahun lalu, rangkaian peringatan Sumpah Pemuda. Lokasinya saja yang berbeda. Kali ini tidak sendiri, namun satu grup dengan beberapa anggota.

Ada beberapa kelompok yang mengisi pertunjukan pada malam itu. Namun, sebagai anak muda jaman old, saya memilah hiburan yang memang sesuai dengan minat saya. Hiburan yang bukan sekadar hiburan. Hiburan yang memiliki makna, dan punya kelas budaya yang benar-benar berbudaya.

Wis, lah. Nanti bingung sampeyan sama apa yang saya maksudkan…

Suasana Kirab Budaya
Macapat, samroh/hadrah, dan shalawat jawa. Tiga pentas tersebut yang menjadi pilihan saya. Setidaknya, menurut saya, isi dari pentas tersebut baik, ada nilai pendidikannya, dan layak ditonton segala umur. Syair yang disampaikan pun memiliki pesan-pesan kebaikan, bukan syair yang miskin makna, semacam lagu curhat ndak nggenah “bojo g*l*k” yang dibiarkan sampai ke telinga anak-anak.

Malam itu, tiga orang melantunkan bait-bait macapat. Karena terlambat mendokumentasikan, tidak banyak syair yang saya bisa ingat dari pementasan tiga orang tersebut. Kalimat doa, dan syair yang sepertinya dikhususkan bagi Sambisari, “mugi manggiho raharjo”, adalah penggalan bait mocopat yang dilantunkan Pak Slamet.

Setelah pertunjukkan mocopatan selesai, disusul penampilan kelompok pengajian ibu-ibu yang membawakan beberapa lagu khasidah. Beberapa lagu tersebut antara lain: kisah rasul, seribu satu jalan, ciri orang munafik.

Seribu macam cara manusia mencari uang
Ada yang menjual koran, ada yang menjual kehormatan
Beruntunglah mereka yang bekerja dengan cara halal
Merugilah mereka yang bekerja dengan cara haram

Samroh Ibu-ibu
Bait di atas, merupakan bagian dari lagu “seribu satu jalan”. Lagu tersebut memuat makna tentang berbagai jalan Allah memberikan rejeki kepada manusia. Serta mengingatkan agar mencari rejeki secara istiqomah dalam jalur halal, karena akan menjadikan keberuntungan baginya di dunia dan akherat.

Melihat penampilan ibu-ibu di atas panggung, seperti kembali ke masa lalu, ketika grup Nasida Ria populer membawakan lagu-lagu khasidahnya. Ibu-ibu ini bergantian menyanyikan lagu yang berbeda. Sebelum berganti lagu dan penyanyi, mereka memperkenalkan penyanyi berikutnya sekaligus judul lagunya. “Lagu berikutnya, kisah rosul yang akan dibawakan oleh Ibu Siti, selamat menikmati”, begitu kalimat pengantarnya. Kalimat tersebut diucap dengan sederhana, datar, namun penuh penghormatan. Menunjukkan kematangan dan penjiwaan atas pentas yang mereka lakukan.

Paijo: “Tidak dengan teriak keras-keras seperti grup musik sebelah, Yo?”
Karyo: “iyo, Jo. Kelas atau derajad musik, akan membedakan cara penyanyi dan personilnya dalam bersikap. Coba bandingkan wae, Jo!” 

Berikutnya, disusul penampilan Sholawat Jawa Madyo Laras. Grup sholawat ini berdiri pada tahun 1994, yang dibidani oleh Pak Zainuri. Sampai saat ini memiliki 34 anggota, yang terdiri dari berbagai usia.

Grup ini pernah memperoleh juara harapan 1 pada lomba sholawat jawa se kabupaten Sleman.  “Pernah pentas pula di masjid Gedhe Kauman”, demikian disampaikan Pak Giyatno, salah satu personilnya.

Poro miyarso kakung miwah putri
Monggo-monggo sekecakno lenggah
Sinambi midangetake slawat Nabi Kang Agung
Pun tindakken mawi boso jawi

Amugi paringo ngapunten kang agung
Dumateng poro konco kulo
Ingkah tansah memuji Kanjeng Nabi
Mugi dadosno piwucal…

Sholawat Madya Laras
Bait di atas, merupakan salah satu bait pengantar yang dilantunkan salah satu personil. Sangat mungkin pendengaran saya salah, sehingga apa yang saya tulis di atas tidak seperti teks aslinya. Namun, kita bisa membaca, bahwa ada pesan yang dalam pada bait tersebut.

Pertama, bait tersebut memberi penghargaan pada siapapun yang datang, mempersilakan duduk sambil nanti mendengarkan sholawat nabi yang dilantunkan menggunakan bahasa jawa. Disusul doa, semoga diberikan ampunan untuk yang selalu memuji atau bersolawat kepada nabi, serta harapan semoga sholawat bahasa jawa ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang mendengarkan.

Pentas malam itu ditemani oleh rintik hujan. Bersyukur, panitia telah menyiapkan tenda besar untuk mengantisipasinya. Pak Dukuh Bayu, tampak hilir mudik, menemui para penonton dan tanpa sungkan, mengulurkan tangan lebih dahulu untuk menyalami mereka. Tidak terkecuali, dengan saya. Uluran tangan untuk salaman itu saya sambut dengan penuh hormat.

Kami pun pulang, membawa oleh-oleh “piwucal” melalui bait-bait mocopat, samroh dan shalawat jawa yang dipentaskan malam itu.

###

Gunungan hasil panen
Sambisari, kata seorang kawan merupakan daerah yang telah memiliki peradaban sejak lama. Keberadaan Candi Sambisari menjadi buktinya. Tinggal di daerah ini, terkadang saya membayangkan, dulu orang hilir mudik berjalan di sela-sela pepohonan besar dari dan menuju candi, untuk bersembahyang dengan berbagai ubo-rampenya.

Disusul dengan keberadaan Masjid Quwwatul Muslimin, yang disinyalir merupakan masjid paling tua di wilayah ini. Keberadaan pemakaman di barat masjid yang beberapa nisannya tertulis tahun wafat 1900-an awal, yang penghuninya memiliki nama yang terpengaruh budaya Arab, menunjukkan pula bahwa pernah ada Islam yang kuat di daerah ini. Prediksi saya, pada nisan yang tanpa tahun, sangat mungkin lebih tua lagi.

Sholawat Jawa, macapatan dan samroh/hadrah di atas, agaknya menjadi budaya yang menggabungkan semangat beragama dengan tetap menghargai tradisi lokal. Ketiganya memuat ajaran hidup. Ketiganya merupakan hiburan, yang tidak sebatas hiburan.


Paijo: "Warisan ini harus dijaga, jangan sampai Sambisari kehilangan jati dirinya"
Karyo: "Bener, Jo. Jangan sampai, tegerus jaman, hilang tak berbekas, tergantikan kesenian atau hiburan yang  jauh dari nilai pendidikan. Kasihan anak-anak kita nanti".





Selamat hari sumpah pemuda
Jangan jadi sampah, namun juga jangan buang sampah sembarangan.

Petilasan Rakai Garung
9 Sapar 1951 - 30 Oktober 2017
5.59 pagi



Friday, 27 October 2017

,

Menjadi Pustakawan Liberal

Purwo.co -- Mungkin ada yang merasa kaget mendengar kata liberal. Jika kita merujuk pada kamus, liberal diberi arti berpandangan bebas (luas dan terbuka). 

Ulil Absar Abdalla pernah menulis esai di Kompas (18/11/2002) yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”Tulisan ini cukup menggemparkan, bahkan, konon Gus Mus sendiri menanggapi tulisan tersebut pada harian yang sama. 

Apa hubungan tulisan Ulil dengan judul esai ini? 
Saya tidak berkompeten untuk bicara kontroversi tulisan Kang Ulil tersebut. Namun, ada beberapa hal yang hendak saya kutip dari tulisan tersebut. Pertama, Ulil menempatkan Islam sebagai "organisme" yang hidup, kedua terkait Islam kontekstual. Keduanya, saya kaitkan dengan perpustakaan. Serta beberapa kalimat lainnya.

Islam sebagai organisme yang hidup. Agaknya tafsirnya cukup beragam lengkap dengan pro-kontranya. "Organisme" yang hidup ini juga dikenal di kajian perpustakaan. “Perpustakaan adalah organisme yang selalu tumbuh”, begitu kira-kira terjemahan salah satu hukum perpustakaan yang dipopulerkan Ranganathan, yang kalimat aslinya "The library is a growing organism" . Semua pustakawan mengamini hukum ini. Para ilmuwan perpustakaan mendukung hukum tersebut, sehingga menjadikan tuah kesaktian kalimat Ranganathan tersebut menjadi semakin mujarab, dan menyihir pustakawan untuk menjadikannya ruh dalam mengembangkan perpustakaan. 

Ulil memosisikan “organisme yang hidup” agar Islam tidak menjadi kaku, dan selau bisa mendorong kemajuan. Kunci pertama yang dia sodorkan: penafsiran yang non-literal, substansial, konstektual, sesuai keadaan kehidupan manusia yang terus berubah. Kedua, penafsiran yang memisahkan aspek budaya dan fundamental. 

Perpustakaan, yang juga merupakan organisme yang hidup dan berkembang, harus selalu menyesuaikan dirinya dengan perkembangan dan kehidupan manusia. Dia tidak boleh kaku, jumud, mandeg, namun harus selalu berkembang. Namun dalam penafsirannya, harus dipisahkan antara fundamental perpustakaan (walaupun fundamental ini juga bisa berubah, berganti), serta “budaya”, atau trend yang muncul dari perpustakaan lainnya.

Paijo: “fundamental kok bisa berubah?”
Karyo: “cen ra jelas kui”

Yang bersifat fundamental harus menjadi pedoman, sedangkan budaya atau trend yang muncul di perpustakaan lainnya, harus dianggap sebagai sebuah produk lokal perpustakaan tersebut, yang belum tentu sesuai untuk perpustakaan lainnya. Setiap perpustakaan, dengan wilayah khasnya masing-masing harus didorong untuk menciptakan produk layanan yang dibutuhkan pada lingkungannya. Impor trend harus disaring, dan jangan sampai justru membebani pustakawan untuk selalu menduplikasi hal yang terjadi di perpustakaan lainnya. Bukan duplikasi, tapi inovasi.

"Inovasi, adalah mengambil dua hal yang sudah ada, dan meletakkannya secara bersama dengan cara yang berbeda", begitu kata Tom Freston. 

Bagaimana kedudukan ketentuan terkait perpustakaan yang sudah dianggap mapan? Misalnya UDC, DDC, dan semacamnya? Mereka harus ditempatkan sebagai sebuah produk budaya, dipandang secara kritis dengan segala kekurangan dan kelebihannya. UDC dan DDC, atau skema klasifikasi yang lainnya merupakan alat, bukan substansi. Maka, alat tersebut boleh digunakan, boleh tidak. Bahkan pustakawan justru akan lebih baik lagi, jika mampu menciptakan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan pemustaka di perpustakaannya. Atau memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan. 


Pustakawan harus ber-itjtihad,mencari formula-formula baru dalam pengelolaan perpustakaannya. Demikian seterusnya. Dia tidak boleh berhenti, kagum dan terkesima melihat perpustakaan (terutama fisik) perpustakaan lainnya saja. Fokusnya harus pada substansi. Alat, fisik, dan lainnya harus dipandang secara teguh sebagai pendukung. Proses harus dilanjutkan dengan menerjemahkannya dengan pendekatan berbeda sesuai dengan konteks perpustakaan yang dikelola. 

Tidak ada tafsir tunggal dalam pengembangan perpustakaan

Satu hal yang boleh dikagumi dari perpustakaan lainnya, adalan semangat mereka melakukan tafsir, sehingga mampu menurunkan konsep fundamental perpustakaan dalam berbagai produk budaya. Pustakawan harus meyakini, bahwa tafsir atas perpustakaan bukan monopoli golongan tertentu saja. Pustakawan harus punya jiwa merdeka, dan berfikir liberal (bebas dan terbuka pada berbagai ide), kemudian meramu berbagai pemikiran tersebut untuk menafsirkan pengembangan perpustakaannya.

Pustakawan merupakan orang yang paling tahu perpustakaan yang dia kelola, termasuk lingkungan di sekitarnya.

Pengembangan perpustakaan, atau ber-perpustakaan merupakan sebuah proses yang tak pernah selesai. “Library is a growing organism”, mungkin akan lebih kuat maknanya jika diterjemahkan dengan “perpustakaan, merupakan proses yang terus menerus, dan tak akan pernah selesai”. Sehingga, dengan terjemah ini, pustakawan akan selalu berfikir bebas, di luar sekat-sekat yang dibuat sendiri oleh mereka, dalam rangka pengembangan perpustakaannya.

Namun, membangun, mengelola, mengembangkan perpustakaan merupakan proses berbuat  kebajikan untuk ummat manusia. Sehingga pustakawan, selain berfikir liberal, juga harus pulang ke fungsi profetiknya sebagai manusia.

Petilasan Rakai Garung, Sambisari
Jemuah, 27 Oktober 2017
5.08 pagi

[1]. http://www.webpages.uidaho.edu/~mbolin/barner.htm
[2]. http://www.tufs.ac.jp/blog/ts/g/aoyama/files/Menyegarkan_Kembali_Pemahaman_Islam.doc
[3]. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/liberal



Tuesday, 24 October 2017

, , ,

Disrupsi(on) bagi pustakawan: ujian tentang cara Tuhan memberi rejeki


perlu senjata untuk mendisrupsi
Purwo.co -- New Oxford Dictionary mengartikan disruption sebagai “…. or problems that interrupt an event. Kamus Inggris Indonesia mengartikan sebagai gangguan. Sementara di Kamus Bahasa Indonesia, diartikan sebagai tercerabut dari akarnya. Arti lainnya, misalnya, yang tercantum pada buku Disruption tulisan Rhenald Kasali (2017), disruption diartikan sebagai inovasi (hal. 34), yang menggantikan sistem lama dengan cara baru.

Tulisan ini, tentunya masih sangat dangkal, sesuai pemahaman saya yang belum pungkas, bacaan saya yang juga belum saya selesaikan. 

Mungkin, arti disrupsion bisa digabung menjadi “gangguan pada sebuah keadaan, dalam bentuk inovasi, yang menjadikan pemain lama terancam atau bahkan tercerabut dari kemapanannya”.

Disruption, sebagai sebuah inovasi terkadang dianggap sebagai ancaman bagi pemain lama. Ojek dan taksi online, misalnya,  yang mengganggu keberadaan taksi dan ojek konvensional. Keduanya mampu menghadirkan layanan yang mudah, murah dan praktis, serta harga yang dapat dilihat di muka. Atau platform toko online yang menjamur, serta pengaruhnya pada toko atau swalayan besar yang sudah ada.

Ekonomi berbagi
Taksi online dan toko online, sesungguhnya tidak selalu memiliki apa yang mereka jual. Barang ada di berbagai tempat, moda transportasi yang ditawarkan ada di berbagai garasi pemilik motor/mobil. Biaya produksi ditanggung oleh banyak orang, demikian pula biaya perawatan kendaraannya. Hal ini menyebabkan biaya yang biasanya ditanggung oleh perusahaan taksi atau mall, bisa ditekan. Akibatnya biaya yang harus dibayarkan konsumen menjadi murah.

Paijo: "wah, seneng yak. murah. Tapi, kalau murah plus bonus, lalu bisnis ojek/taksi online itu untungnya dari mana?". 

Ancaman ini, menurut Rhenald Khasali, pada buku yang sama, ada  pengecualian. Kunci pengecualian itu ada pada inovasi, membentuk ulang , re-shape (mencari bentuk lain) model bisnis dengan cara baru.

#####

Ojek dan taksi online, dapat merebut pasar atau mencipta pasar baru karena dirasa lebih murah dan mudah, serta real time dalam hal biayanya. Toko online, kurang lebih sama. Mudah, tidak perlu mobilitas, sehingga jika ada selisih harga sehingga lebih mahal, tidak begitu dipermasalahkan. Adanya informasi harga di awal, dan jelas, menjadikan konsumen percaya. Kalau cocok, lanjutkan. Jika dirasa mahal, dibatalkan.

Karyo: "wah, kalau sudah mudah, mudah, dan orang kecil bisa menikmati, ya pemain lama bakal terganggu".

Re-shape layanan dari incumbent (pemain lama) sebagai bentuk respon pada disruption dapat kita lihat dari usaha mereka melakukan duplikasi model. Misalnya taksi konvensional membuat apps, dengan iming-iming harga yang lebih murah. Mall konvensional menyediakan apps dan juga layanan antar pada konsumen. Mereka ingin menawarkan mudah dan murah pada konsumen. Dua layanan tersebut sebelumnya telah ada di toko online. Kita bisa melihat adanya SayTaxi, atau baliho sebuah mall yang menawarkan layanan antar barang. Berhasilkah?

Pemain konvensional (toko dan taksi konvensional), agaknya lupa, bahwa taksi dan toko online memainkan peran berbagi modal. Rhenald Khasali menyebutnya sebagai economic sharing. Berbagi modal ini, menjadikan harga taksi online menjadi lebih murah. Berbagi modal tersebut tidak dilakukan oleh yang konvensional.

Disruption pada pustakawan: sudah ada sejak dulu
Terkait pustakawan, apa saja disruption yang muncul, dan apa respon pustakawan pada disruption tersebut?

intip yang siap digoreng, apakah terdisrupsi?
Ketika dahulu perpustakaan menyediakan buku fisik, maka kemunculan komputer untuk mencatat koleksi agar pencariannya mudah, menjadi gangguan pertama bagi para pustakawan incumbent. Kemudian, ketika muncul katalog terpasang, dan pencatatan sirkulasi secara elektronik, menjadikan gangguan bagi pustakawan yang kurang bisa menggunakan komputer.

Paijo: "dulu ada hingar-bingar di internal pustakawan, tentang adanya lowongan kerja pustakawan namun diperuntukkan bagi sarjana selain pustakawan, itu juga sebagai bentuk gangguan, Yo?"
Karyo: "sangat mungkin, Jo"

Lowongan pustakawan tapi syaratnya bukan sarjana perpustakaan juga bentuk gangguan. Padahal (bisa jadi) institusi tersebut memang memerlukan pustakawan yang paham ilmu lain untuk mengoptimalkan peran perpustakaannya. Pustakawan justru meresponnya dengan mengajukan senjata undang-undang atau aturan, yang menyatakan bahwa yang berhak menjadi pustakawan itu alumni (ilmu) perpustakaan. Pustakawan telah terganggu (terdisrupsi). Mereka lupa, bahwa di lain tempat ada alumni (ilmu) perpustakaan yang bekerja sebagai administrasi kantor, yang seharusnya domainnya alumni sekolah administrasi. Saling mengganggu.

Yang paling baru terkait kepala perpustakaan sekolah yang diangkat dari guru (yang kekurangan jam mengajar).

Respon itu, sama dengan respon taksi konvensional, yang menggunakan senjata regulasi dan meminta bemper pemerintah untuk membela mereka.

Ketika Google begitu gagah dan saktinya memberikan jawaban atas pencarian yang dilakukan manusia, lalu bagaimana posisi katalog perpustakaan? Ketika e-book dan e-jurnal akses terbuka begitu mudah diakses dari internet, lalu apa peran pustakawan?  Ya, saat itu, sebagai institusi yang ada di bawah institusi induk, perpustakaan mengambil (diberi maupun meminta) peran sebagai penyedia dan penjaga e-jurnal dan e-book yang dilanggan. Perpusakaan menyeleksi, melanggan dan menyajikan. Perpustakaan pun menjadi penting, dan merasa perannya penting. Namun..

Ketika muncul Sci-hub sebagai mesin perantara ke koleksi teks lengkap tanpa harus direpotkan dengan login dan bahkan langganan, lalu bagaimana posisi pustakawan? Lepas dari debat terkait legal-tidaknya sci-hub. Sci-hub telah mengganggu model bisnis database jurnal, sekaligus mengganggu peran pustakawan. Kalau pustakawan mempublikasikan sci-hub, maka akan masuk ke ranah ilegal, dan tentunya jurnal yang dilanggan menjadi tidak berguna, atau paling tidak aksesnya akan menurun. Rugi. Kerja pustakawan akan terdisrupsi. Jika tidak mempublikasikan sci-hub (baik dengan cara massal atau dari mulut ke mulut), maka pemustaka akan kesulitan mendapatkan artikel yang tidak dilanggan perpustakaan.

Paijo: "Sci-hub kui panganan opo, Yo?"
Karyo: "gethuk goreng. Eh, sik bikin Sci-hub kui uayu lho, Jo!"

Akhirnya, pustakawan malu-malu kucing dalam penggunaan sci-hub dan teman-temannya.

“Pustakawan sebagai perantara literasi pada referensi yang terpercaya”, demikian kilah pustakawan untuk menunjukkan bahwa pustakawan tetap benar-benar penting. Padahal, pemberi petunjuk pada sumber informasi valid, bukanlah domain pustakawan secara tunggal. Banyak orang selain pustakawan yang memiliki kemampuan ini. Ada pula pustakawan yang justru belajar kepada mereka. Bahkan, orang yang sudah dilatih pustakawan untuk mencari informasi yang benar, dapat menularkan kemampuannya pada orang lain. Sehingga, ketika manusia sudah bisa membedakan informasi valid dan tidak valid secara mandiri, apa yang hendak dilakukan pustakawan?

Memang, kapan kondisi tersebut terjadi?, mungkin masih lama. Sehingga peran perpustakaan tersebut masih diperlukan.

Gangguan pada eksistensi pustakawan, sebagaimana munculnya ojek/taksi online sebagai bentuk “gangguan” pada yang konvensional, sesungguhnya adalah proses alamiah. Proses tersebut merupakan keniscayaan kemajuan jaman dan teknologi. Toh, di dalamnya ada proses positif yang harus diapresiasi. Nilai positif pada kehadiran ojek online, misalnya: terbukanya lapangan kerja, semakin dekatnya produsen dan konsumen, dan lainnya. Kenyataan bahwa yang konvensional turun pendapatannya, merupakan sebuah tamparan, bahwa mereka harus berinovasi jika ingin pendapatannya tetap atau naik.

Baca juga: Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

Sementara itu, pada munculnya Google, sci-hub, menjadikan pemustaka mudah memperoleh referensi yang dibutuhkan, bahkan gratis tanpa membayar. Hal ini, akan mengurangi tugas pustakawan untuk mencarikan informasi untuk pemustaka. Energi yang mengendap ini, seharusnya bisa disalurkan pada bentuk layanan lain, layanan baru, layanan hasil dari re-shape model peran yang telah ada, sebagai bentuk dari “menyelamatkan”diri dari gangguan yang ada.

Gangguan pada dunia kerja pustakawan, atau dalam dunia kepustakawanan sudah ada sejak lama. Namun, sampai saat ini pustakawan masih ada. Ya… walaupun ada tanda-tanda bakal hilang, setidaknya ini dituliskan oleh Rhenald Khasali dalam tulisannya di Kompas. Namun sepertinya prediksi hilangnya pustakawan hanya dipandang dari sisi pengelola buku saja, dan tergantikan oleh mudahnya akses ebook dan ejurnal. Namun jika dipandang akan berkurang, agaknya cukup logis dikenapan pada penerjemah, pustakawan.


Paijo: "hmm, jadi kesimpulan hilangnya pustakwan itu, karena dari pandangan pekerjaan pustakawan yang meminjamkan dan mengembalikan buku saja, Yo?"Karyo: "sepertinya demikian, jika pustakawan mau tetap ada, maka..."

Jumlah pustakawan dalam sebuah perpustakaan, yang dulu misalnya ada 10, sekarang cukup 5 orang, menunjukkan adanya pengaruh dari disrupsi pada dunia kepustakawanan. Jika jumlahnya tetap, kemungkinan mereka akan rebutan pekerjaan.

Pertanyaannya, apa bentuk layanan baru pustakawan, sebagai cara pustakawan untuk menjadikan dirinya tetap ada?

Meski kata Pak Rhenal disrupsi itu ada pada model bisnis, namun agaknya saya cenderung kepada dua hal. Entah model bisnis, atau produknya, perlu dibentuk ulang, diperbarui.

PT Pos, ketika muncul internet, mampu bertahan dengan melakukan berbagai pembaruan layanan. Ketika kegiatan kirim surat sudah semakin sedikit, maka layanan kirim selain surat harus dikuatkan. Jaringan PT Pos yang luas, dapat dioptimalkan. Semuanya ada dalam satu payung konsep “pengiriman”.

Lankes, menyebut pustakawan memiliki payung besar terkait perannya ditengah kehidupan manusia. Memfasilitasi komunitas untuk meningkatkan kualitas mereka, dengan cara membentuk pengetahuan baru, “the mission of librarian is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities”. Konsep ini mungkin dapat dijadikan panduan re-shape peran pustakawan.

Informasi semakin dekat dengan pemustaka melalui berbagai teknologi, pemustaka pada suatu waktu mampu memilih sendiri yang berkualitas atau tidak berkualitas karena diajarkan oleh orang tua mereka yang lebih dahulu memahami, pemustaka dapat secara mandiri mengunduh ebook atau e-article yang diperlukan dari sumber manapun. Dari sisi pustakawan, institusi butuh kemampuan lain dari pustakawan untuk mendukung institusi, kebutuhan akan jumlah pustakawan pada sebuah perpustakaan menjadi berkurang.

i-Jakarta, i-Jogja, IoS (Indonesia one Search), dan semacamnya, sepertinya bisa dianggap sebagai sebuah usaha untuk selamat dari disrupsi. Namun, parahnya, ide untuk membuat “i” tersebut tidak sepenuhnya (untuk memperhalus penyebutan “bukan”) ide dari pustakawan.  Produk tersebut muncul atas kebaikan ideatornya, yang mengajak pustakawan untuk bersama mewujudkannya.

Produk di atas, menjadi salah satu usaha bermain cantik menghadapi mudahnya mengakses informasi yang tersedia di internet. Pustakawan mengelolanya, mewadahi dalam bentuk “i”, dan menyajikan kepada pemustaka. Namun, itu bisa menjadi gangguan lagi di masa depan. Karena kehadirannya pasti akan mengambil peran-peran pustakawan yang selama ini ada. Proses sirkulasi akan berkurang, dan lainnya.

Terjunnya pustakawan ke kerumunan pemustaka, misalnya: pustakawan di perpustakaan daerah yang menyambangi masyarakat pemustaka yang belum terjangkai “i”, kemudian mengadakan berbagai kegiatan bersama mereka, dalam payung besar sebagaimana disampaikan Lankes juga bisa dianggap sebagai bentuk re-shape produk layanan pustakawan. Luasnya wilayah kerja perpustakaan daerah, menjadikan pustakawannya relatif tidak begitu kesulitan dalam menciptakan produk layanan baru bagi pemustakanya.

Kemampuan baru para pustakawan, disesuaikan dengan kebutuhan institusi induk, dalam rangka mendukung visi misi insitusi tersebut, sangat diperlukan. Kemampuan-kemampuan ini akan sangat dinamis, sesuai perkembangan jaman. Kemampuan pustakawan membaca keadaan menjadi sangat penting. Mungkin, ini bisa disamakan dengan konsep “realtime” pada disrupsi yang disampaikan Rhenald Kasali. Apa yang dibutuhkan saat ini, pustakawan mampu memberikannya pada pemustaka.

Jika ditarik ke pustakawan, mengacu pada Lankes, “fasilitating knowledge creation” merupakan produk besarnya. Caranya bisa bermacam dan dapat dilakukan pustakawan dengan selalu menempel pada pemustaka. Layanan turunan dari “fasilitating knowledge creation” akan selalu berubah sesuai kebutuhan, perkembangan teknologi, dan kemampuan pemustaka. 

Jika suatu saat, layanan terkait “fasilitating knowledge creation” menjadikan makna pustakawan menjadi kabur, ya tidak apa-apa. Mungkin akan muncul sebutan baru, yang lebih tepat bagi pekerjaan tersebut, bukan lagi pustakawan, sehingga pustakawan yang melakukan cara-cara lama akan berkurang.

Atau, bukan makna pustakawan yang kabur, namun makna perpustakaan yang harus mengikuti definisi pustakawan.

Ketika pustakawan berkurang, maka pustakawan kudu mencari pekerjaan lain atau menciptakan pekerjaan baru. Kenyataan ini akan menjadi penyaring alamiah, siapa yang masih kuat dengan profesi pustakawan, dan siapa yang yang sudah tidak kuat.

Kapan profesi pustakawan akan hilang? Ya, ketika sudah tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk orang lain. Atau ketika orang lain sudah bisa melakukan sendiri, apa yang saat itu pustakawan tawarkan.

Di sinilah letak keyakinan pustakawan diuji, terkait keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu murah dalam memberikan rejeki melalui berbagai pintu. Usaha menjemput rejeki dari berbagai pintu, dengan berbagai kompetensi, sebagai sebuah ikhtiar manusia untuk memberi nafkah keluarganya, menjadi sebuah kewajiban.

Paijo: "Ya, yang diuji bukan hanya pustakawan. Tapi tapi semua ummat manusia kudu yakin, bahwa rejeki itu jalannya banyak".

Seorang kawan, mengingatkan saya tentang tulisan yang pernah saya tulis, "kalau semua manusia itu pustakawan, dan jagad raya itu perpustakaan, maka disruption itu tak akan berpengaruh".


Di tulis di tanah leluhur Rakai Garung, Sambisari
diunggah pada blog, 24 Oktober 2017 pukul 12.45 siang, Sekip, Yogyakarta.

Bahan bacaan:

  1. The Atlas of New Librarianship, karya David Lankes
  2. Sekilas The New Librarianshio Field Guide, karya David Lankes
  3. Disruption, karya Rhenald Kasali (2017). Tapi ketika menulis esai ini, baru sampai pada halaman 147
  4. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.soal.disruption.
  5. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disruption-
Tambahan:
  1. https://learnoutlive.com/the-digital-revolution-kills-jobs-faster-than-it-creates-new-ones/
  2. https://www.thejobnetwork.com/8-jobs-that-won't-exist-in-2030/


Monday, 23 October 2017

[vlog] Mbakar degan di kampung halaman

Purwo.co - Kali ini, tidak seperti biasanya, saya menulis bukan tentang kepustakawanan, namun tentang kampung halaman saya, Ngliparkidul. Tetapi, sepertinya Paijo tidak sepakat. Dia bersikeras, bahwa apa yang saya sampaikan ini tetap terkait kepustakawanan. “Cerita atau tulisan tentang kampung halaman, itu juga bagian dari kerja kepustakawanan”, begitu katanya. “Bahkan, ketika kita mengatakan pada teman kita, bahwa kita baru saja kentut, itu juga terkait kepustakawanan”, tambah Paijo.

Paijo, kemudian berkhotbah tentang filsafat kepustakawanannya Ranganathan, “setiap buku ada pembacanya”. Setiap informasi pasti juga ada yang memerlukannya, kalau belum ada yang mengatakan perlu, itu karena belum ditemukan siapa yang memerlukannya. Termasuk kentut tadi. Informasi bahwa kita akan kentut atau baru saja kentut, sangat bermanfaat bagi kiri-kanan kita, agar mereka bersegera menutup hidung atau menyingkir.

Jadi, apapun tulisannya, itu adalah kerja kepustakawanan, itulah hebatnya cakupan kerja pustakawan. Demikian Paijo menyampaikan dengan semangat menggebu, tentunya sambil nggaya menyanjung profesinya. Okelah, saya ikut Paijo saja. Meski kadang dipandang aneh, tapi mungkin Paijo ini menguasai ilmu laduni, atau ilham dan keyakinan yang begitu kuat. Keyakinan Paijo tersebut, agaknya ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak harus diawali dengan keraguan sebagaimana banyak diyakini para ilmuwan. Tapi bisa diawali (atau lebih afdal diawali) dengan keyakinan.

Paijo: “bau apa ini, Yo?”
Karyo: “kentutku, Jo. Sorry, bro”.

####

Kampung saya ini berjarak 40-an kilometer dari tempat saya kerja, atau 30-an kilometer dari tempat tinggal saya di Kalasan. Dulu, saya pernah berfikir untuk nglajo, atau pergi pulang dari rumah/kampung ke tempat kerja. Bertemu kehidupan kampung halaman terasa sangat menyenangkan dan bisa menjadi obat dari hiruk-pikuk kehidupan kerja. Sabtu-minggu bisa digunakan untuk ke hutan, atau ke sawah menanam cabai, menaman padi, atau memetik ketela kemudian dibakar.

Jarak antara tempat kerja dan kampung halaman



Rumah saya cukup terpencil. Di sebelah timur terbentang sungai, di depan (selatan) terdapat jalan yang digunakan orang kampung hilir mudik dari dan ke hutan. Ya, begitulah, karena beberapa ratus meter di timur rumah merupakan hutan pemerintah yang dikelola warga. Sementara di sebelah selatan jalan juga terbentang tanah pertanian kas desa yang dikelola para pamong desa. Jarak rumah saya, dengan rumah lainnya cukup jauh. Di belakang, paling dekat sekitar 100 meter. Sebelah barat 150-an meter. Sebelah timur, 300-an meter, demikian pula di selatan, rumah paling dekat juga sekitar 300-an meter. Pada peta wilayah dusun, rumah saya merupakan rumah yang paling timur, di perbatasan.


Baca juga: Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

Karena jalan di depan rumah digunakan untuk hilir mudik warga ke hutan, kami sejak kecil menjadi terbiasa dengan para warga. Ketika mereka lewat di jalan depan rumah, saling menyapa adalah prosesi yang selalu kami lakukan. “saking wono, mbah?”, merupakan pertanyaan basa-basi dari kami kepada mereka. Ya, tentu saja kami sudah tahu bahwa mereka baru saja dari hutan (jawa: wono), tapi begitulah cara kami membangun keakraban. “Pinarak”, “kendel rumiyin”, “ngrumput, De?”, dan sapaan lainnya mengikuti sapaan pertama sebagai pelengkap basa-basi. Ah, kadang juga bukan basa-basi. Ketika kami sedang membuat teh, dan ada yang lewat, kamipun serius meminta mereka untuk mampir, atau pinarak.

Kamipun bercengkerama, ngobrol tentang panen, pupuk tanaman, air, sapi ternak dan lainnya.

###

Tapi, jarak yang jauh, sekitar 40-an kilometer dari tempat kerja menjadikan saya berfikir ulang. Meski ketika ketemu teman yang nglajo,  rasanya itu bukan hal yang mustahil pula untuk saya. Jika saya ada kendaraan semacam Jamantara (kendaraan berwujud macan, milik Nini Luh Jinggan pada kisah Tutur Tinular), pasti akan lebih menyenangkan. #nglamun.

Tapi, apa yang sekarang dititipkan pada saya, harus saya syukuri. Saya bertempat tinggal di Kalasan. Jaraknya bisa ditempuh dalam kurang dari 60 menit waktu normal untuk kembali ke kampung halaman. Saya hanya perlu mengurangi beberapa hal yang memang bisa dikurangi dari kegiatan rutin, agar dapat kembali menyeimbangkan kehidupan.

Sarjana yang berhasil, adalah sarjana yang pulang kampung. Konon, kabarnya demikian. 
Saya merasa tersindir dengan kalimat di atas, semoga bukan karena perasaan saja, tapi benar-benar merasa.

Puthul, salah satu hewan yang dijadikan lauk oleh warga Gunungkidul


###

Hari itu, Sabtu 21 Oktober 2017, saya pulang kampung. Iseng membuat VLOG terkait suasana sekitar rumah. Vlog pertama tentang keadaan tanah di samping rumah, yang sedang dibersihkan, serta berbagai tanaman yang ada di atasnya. Vlog kedua, tentang kelapa muda bakar. Video diambil dengan kamera ponsel, suara kurang terdengar, belum profesional, semoga bisa ditangkap isinya.







Sambisari, 23 Oktober 2017
5:26 pagi

Saturday, 14 October 2017

Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

dikutip dari Arnold Hirshon
Purwo.co - Perpustakaan dan (ilmu) perpustakaan, bergantung pada pustakawan. Sesungguhnya pustakawan adalah kunci.

Pustakawan, merupakan sosok yang menggerakkan kerja-kerja di perpustakaan.  Perpustakaan dan pustakawan, merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Perpustakaan tanpa pustakawan, tentunya kurang optimal. Pustakawan tanpa perpustakaan, maka penyebutan pustakawan menjadi kurang afdal. Tentunya, perpustakaan dalam hal ini, adalah perpustakaan dalam arti seluas-luasnya.

Karena saling terkait, maka keduanya tidak dapat dipisahkan, dan tentunya terkait citra, akan saling mempengaruhi. Namun, sekali lagi, pustakawan adalah kunci. Perpustakaan yang baik  akan mempengaruhi citra pustakawan, tetapi perpustakaan dianggap baik itu tergantung pustakawannya.  Pustakawan yang baik, akan berpengaruh pada citra perpustakaan. Dan jika kerja-kerja pustakawan ini sampai pada level tertentu, maka pandangan orang di luar perpustakaan tentang status ilmu perpustakaan, akan terpengaruh. 


Tiga citra tersebut sesungguhnya dibebankan pada pustakawan.  Mulai dari citra pustakawan (dirinya sendiri), citra perpustakaan, dan citra ilmu perpustakaan.


Citra pustakawan (dirinya sendiri)
Sebagai orang yang bertanggung jawab pada berjalannya fungsi perpustakaan, maka pustakawan melakukan berbagai hal dia dianggap perlu. Mulai dari menjalankan tugas rutin, maupun tugas lainnya yang berkaitan dengan hubungan pada atasan, komunikasi pada pemustaka, komunikasi antar unit, layanan yang diberikan pada unit lain, kerja pengembangan, dan lainnya. 

Kerja-kerja tersebut, akan mempengaruhi citra (gambar) dirinya pada orang lain. Orang lain (pemustaka, dan orang luar perpustakaan) akan menilai si pustakawan dari manfaat yang dia peroleh ketika berhubungan dengan si pustakawan.  Citra ini harus dijaga oleh pustakawan, agar tetap baik di mata orang lain, atau menjadi baik jika pustakawan sebelumnya dianggap kurang baik. 

Setiap pustakawan adalah mufassir, dan pustakawan merupakan pemegang otoritas tafsir atas perpustakaannya.

Hal yang perlu diingat, citra pustakawan ini terkadang dimaknai secara personal. Pengangkatan citra dilakukan untuk pribadi-pribadi, bukan atau tidak menarik citra tempat dia bekerja. Hal ini, tentunya kurang elok.


Citra perpustakaan
Segala yang dilakukan pustakawan dalam rangka menggerakkan perpustakaannya, akan mempengaruhi citra perpustakaannya. Baik-buruknya perpustakaan, akan dimulai dari si pustakawannya sendiri.

Pustakawan yang pintar, tidak otomatis akan membawa citra baik untuk perpustakaannya, jika kepandaian itu tidak diaplikasikan pada pengembangan perpustakaan. Pustakawan yang justru sibuk dengan kerja-kerja di luar wilayah perpustakaanya dan "melupakan" rumah utamanya, juga demikian, justru akan berpotensi berpengaruh buruk pada perpustakaannya. 

Untuk membangun citra perpustakaan, pustakawan perlu keberanian (menjadi benar-benar pustakawan, pustakawan paripurna), bertindak lokal namun berefek global, dan fokus pada perpustakaan yang dia kelola. 

Perlukah pustakawan memunculkan dirinya di gelanggang yang lebih tinggi?. Perlu. Namun, selama pemunculan itu terkait dengan dirinya sebagai pustakawan, maka tetap dia harus membawa nama "pustakawan" dan perpustakaan tempat dia bekerja. 

Masuk ke dalam pentas yang lebih tinggi, tapi tidak dengan nama "pustakawan", sama dengan pengkhianatan profesi.
Dengan membawa nama pustakawan/pengelola perpustakaan tertentu, maka secara langsung akan mengangkat citra perpustakaannya. 

Citra ilmu perpustakaan
Perpustakaan sebagai ilmu, agaknya masih diragukan. Benarkah benar-benar ilmu yang harus dipelajari di bangku kuliah secara formal, atau memang…ya, cukup melalui jalur kursus atau pengalaman otodidak saja. Setidaknya ini ditunjukkan dengan nomenklatur yang saat tulisan ini dibuat, tidak menyebutkan ilmu. Tertulis "perpustakaan dan sains informasi".
Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Pandangan positif dari orang selain pustakawan pada “ilmu” perpustakaan, ditentukan oleh kerja-kerja pustakawannya. Karena mereka, orang-orang itu melihat yang nyata di lapangan, apa yang mereka rasakan dari layanan pustakawan, bukan sekadar yang ada di atas kertas yang dipresentasikan di berbagai konferensi. Kerja nyata ini, hanya dilakukan oleh pustakawan

Ada kenyataan pengelola perpustakaan yang tidak alumni prodi ilmu perpustakaan, ternyata bisa mengelola perpustakan dengan modal kemauan belajar sepanjang hayat. Ketika ternyata hasilnya sama dengan yang dikelola orang yang alumni sekolah perpustakaan, akan menjadi kenyataan yang cukup berpengaruh. Setidaknya, bagi institusi yang menaungi perpustakaan tersebut.

Kenyataan tersebut akan mendorong pada kesimpulan-kesimpulan, misalnya: tak perlu alumni sekolah perpustakaan untuk mengelola perpustakaan, atau jika telah dikelola oleh alumni sekolah perpustakaan, maka justru dia dipindah ke bagian lain yang dianggap lebih penting. “Cukup dikelola alumni SMA, saja. Nanti bisa sambil belajar”, begitu kira-kira.

Bagi pustakawan yang meyakini bahwa ilmu perpustakaan itu benar-benar ada, maka hendaknya dia menunjukkan pada kerja-kerjanya. Namun, bagi pustakawan yang menganggap ilmu perpustakaan itu tidak ada, maka kepatuhan pada pimpinan adalah cukup baginya. 

Beratnya beban citra pustakawan
Tiga hal di atas menunjukkan beratnya citra yang harus ditanggung oleh pustakawan, disamping perjuangan dirinya sendiri untuk tetap bertahan menjadi pustakawan.

Pustakawan harus selalu belajar agar kemampuannya selalu sesuai dengan perkembangan jaman, agar perpustakaannya tidak ketinggalan, dan agar dia selalu bisa menguasai dan menerapkan berbagai hal baru terkait perpustakaan.

Pustakawan bukan orang yang berhenti di teori-teori di atas kertas. Pustakawan itu mempelajari, melakukan dan mempublikasikan. Dan untuk “melakukan”, membutuhkan keberanian.

Karyo: "Saya pernah dengar curhat orang yang sebelumnya menjadi praktisi, bukan pustakawan, Jo. Tapi akhirnya menyerah karena beratnya beban yang harus ditanggungnya. Kemudian si praktisi ini pindah menjadi akademisi.
Paijo: "Abot yo, Kang."

Demikian pula pustakawan, jika tidak kuat dengan tanggungjawab menjaga 3 citra di atas, maka sangat mungkin dia meloncat pindah ke profesi lain yang lebih mapan, dengan tingkat strata sosial lebih tinggi, dan tentunya lebih prestisius.

Ilmu perpustakaan itu ada atau tidak, tidak ditentukan oleh debat atau diskusi ilmiah para ilmuwan perpustakaannya. Namun 99% ditentukan oleh kerja-kerja pustakawan. 

Agar tanggungan citra tersebut terasa ringan, maka cukuplah bagi pustakawan untuk bekerja sebaik-baiknya, pasrah dan serahkan hasilnya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika memang dirasa ada profesi lain yang bisa dimasuki dan lebih baik untuk anda, cobalah. Tidak ada larangan. Tapi, tentunya andapun boleh tidak setuju dengan saya.



Tanah leluhur Rakai Garung, Sambisari.
tanggal 14, bulan sepuluh tahun 2017
01.33 dini hari